Kamis, 20 Juni 2013

Pras



Aku Marun. Remaja yang menurutku hampir sempurna. Orang bilang, aku benar-benar anugrah dari Tuhan. Cantik, tinggi semampai, pintar, memiliki orang tua yang mapan, apapun pasti aku miliki, dan teman-temanku bilang aku penakluk cowo yang tangguh. Bukannya aku sombong, tapi itu memang kenyataan, apapun yang aku inginkan pasti kudapatkan. Tapi yang pasti satu hal yang tidak pernah aku miliki, kekasih, kekasih yang benar-benar menerima aku apa adanya, bukan karena kecantikkan, kepopuleran atau kekayaanku. Susah sekali mendapatkan hal itu. Sampai….
“ Pagi Run…eh hari ini lo mau ikut survei ke Anyer?” tanya Mela, teman sebangkuku
“ Mmm nggak!” jawabku pendek, aku sedang berkonsentrasi pada soal Fisikaku
“ Run, lo-kan wakil ketua OSIS, masa nggak ikut survei sih?”
“ Karena gua wakil ketua, makanya gua punya bawahan yang bisa ngontrol Anyer dan tinggal melaporkan saja ke gua” balasku datar dan dingin. Aku bisa merasakan Mela menghilangkan senyum di wajahnya, mungkin kecewa mendengar jawabanku yang memang terlalu ketus padanya. Biar, ini adalah keputusanku, lagipula aku tak punya waktu untuk hal kecil semacam itu.
Saat pulang sekolah ketika hendak menaiki mobil, aku dicegat oleh cowo jangkung berbadan tegap, aku langsung membelalak menatapnya, minggir! Tapi dia tetap di depanku menatapku tajam, apa-apaan dia?
“ Permisi, gua mau masuk ke mobil” ujarku berusaha sopan
“ Gua akan minggir kalau lo masuk ke mobil dan bawa tu mobil ke Anyer untuk survei” balas dia dingin. Aku tersenyum licik menatapnya, who do you think you are? Suruh gua untuk pergi ke Anyer hanya untuk survei padahal pekerjaan itu bisa dilakukan oleh anggota seksi yang ia ketuai.
“ Gua mau pulang, bukan ke Anyer hanya untuk liat-liat doang! Gua punya urusan lain yang lebih penting” lalu aku berjalan menerobosnya. Tapi cengkraman erat tangannya padaku tak kuasa kutahan. Ia menarikku masuk ke mobil dan ia mengambil alih tempat kemudi lalu melajukan mobilku. Hah? Dia benar-benar kurang ajar!!
“ Lo tu kurang kerjaan ya?! Emangnya gua bolehin lo untuk bawa mobil gua…berhenti!! BERHENTI!!!” aku berteriak ke arahnya, aku marah besar ketika melihat reaksinya yang tenang, ia terus menyetir bagai tak ada aku saja
“ Jangan mentang-mentang lo ketua OSIS lantas lo seenaknya ngatur gua!!” aku melayangkan pukulan ke arahnya. Dengan gesit ia menahan pukulanku
“ Justru karena gua ketua OSIS gua harus kontrol kerja bawahan gua. Ingat, lo wakil gua, bawahan gua dalam acara ini. Jadi jangan macem-macem!!! Lo tinggal duduk aja kok! Biar gua yang nyetir, jadi lo akan survei ke Anyer tanpa capek-capek nyetir, Ok?!” ia lantas melepaskan cengkraman tangannya dan kembali menyetir dalam diam. Aku hanya bisa menatapnya lewat ujung mataku. Dia benar, aku tak bisa menyangkal perkataannya, perkataan ketua OSIS.
Cowo yang sedang menyetir disebelahku adalah Wahyu Prasetyo, ketua OSIS, pintar, tegas, tak pernah tertarik pada cewe (termasuk aku!) dan berwibawa. Aku kalah dalam voting ketua OSIS melawannya. Kuakui memang ia unggul dalam ketenangan berfikir dan memberikan keputusan yang tepat dalam hitungan detik saja. Aku jujur saja agak jengkel dengan keberadaannya disebelahku saat ini. Ia adalah orang yang telah mengambil kejayaanku sebagai ketua OSIS, dan sekarang malah mengatur kemana aku harus pergi.
“ Itu pantainya” Pras menunjuk ke arah pantai yang memiliki hotel dipinggir pantainya. Indah sekali. Aku menatap cepat ke arah Pras, Pras tampak sangat bahagia dan ada seulas senyum di bibirnya yang tipis. Sesaat damai rasanya melihat senyumannya yang sangat manis itu, tapi aku sadar kalau aku tidak menyukainya.
Kami memasuki kompleks pantai tersebut. Hawa panas langsung menjalar ke seluruh tubuh begitu aku keluar dari mobil.
“ Wah Marun ternyata ikut juga! Katanya nggak mau” ujar Mela riang dari arah belakangku
“ Pras yang maksa gua” jawabku pendek
“ Gua nggak maksa lo, gua cuman mengingatkan lo, I’m your leader!” timpal Pras dengan tatapan dinginnya. Mela terpaku dan bergerak mundur perlahan.
“ Terserah lo, Leader” ujarku sambil ngeluyur pergi dan merebut kunci mobilku dari tangannya.
Setelah kami selesai menyurvei tempat, hotel, dan kelengkapan yang lainnya, Pras membolehkan kami untuk menikmati indahnya pantai sebelum pulang kembali ke Jakarta. Aku cukup puas mendengar keputusannya. Aku kira ia adalah robot yang tak tau kesenangan bermain air di pantai.
Aku lantas melepaskan sepatu, duduk ditepi pantai menikmati semilir angin yang menyejukkan.
“ Nggak main air?” tanya Pras sambil duduk disebelahku
“ Ngapain lo kesini?” tanyaku ketus, aku tak mau acara rileksku ini diganggu olehnya
“ Ngajak lo untuk jalan-jalan dipinggir pantai, ngerasain nyamannya kaki terkena genangan air laut” jawabnya kalem
“ Panas!” balasku lagi
“ Ayo!!” Pras menarik tanganku dan memaksaku untuk berjalan bersamanya dipinggir pantai yang dihujani terik matahari. Aku buru-buru menundukkan kepalaku, melindungi diri dari teriknya matahari.
“ Kok nunduk sih? Kan enak ngerasain terik matahari jatuh ke kulit kita” ujar Pras sambil mendongakkan kepalanya. Gila dia, panas seperti ini malah berjemur, sinting!
“ Bisa kena kanker kulit tau! Udah ah gua mau ke mobil” aku meninggalkan Pras sendirian berdiri terpaku melihat kepergianku.

“ Nak, perlengkapannya sudah lengkapkan?” tanya mama padaku sewaktu aku mempersiapkan barang-barang kebutuhanku untuk ke Anyer besok.
“ Ya!!” jawabku riang


Keesokkannya kami berangkat ke Anyer untuk acara perpisahan sekolah.
Sesampainya di Anyer, semua anak, kecuali aku, bermain air, berenang atau hanya makan dipinggir pantai. Aku hanya duduk di lobby hotel membaca buku yang saat ini sedang kusukai, Rich Dad Poor Dad.
“ Nggak main ke pantai?” tanya seseorang lalu duduk di depanku. Aku berhenti membaca sebentar…lalu menjawab
“ Nggak” lantas kembali pada paragraf yang tadi sempat terhenti.
“ Nggak bawa ini ya?!” Pras menjulurkan sun block lotion ke depan hidungku. Darimana dia tahu kalau aku lupa membawa sunblock lotion? Aku mendongak menatapnya penuh rasa heran, jangan-jangan ia telah memata-mataiku.
“ Tau dari mana?” tanyaku cepat
“ Cewe cantik seperti lo nggak mungkin main ke pantai tanpa cairan ajaib ini, iyakan?” tanyanya sambil tersenyum padaku, aneh!
“ Mmm thanks” aku tak menolak tawaran bagusnya. Aku lantas berjalan keluar lobby dan mencari tempat teduh untuk mengoleskan sunblock ke tubuhku. Aku mendapatkan tempat itu. Aku lantas duduk dan mulai mengulaskan lotion itu ke kulitku sampai aku kesulitan menjangkau bagian punggung…
“ Ternyata sudah lengkap pake swimsuit!!” Pras tiba-tiba muncul disebelahku
“ Ya…udah sana main lagi, ngapain lo kesini?” aku mengusirnya karena terusik dengan kehadirannya disampingku
“ Tadi gua liat lo lagi make lotion, sampai lo kesusahan…” Pras tidak melanjutkan kalimatnya, ia menunduk, lalu bangkit dan beranjak pergi
“ Pras! Tunggu…” aku memanggilnya. Pras membalikkan tubuhnya cepat. Wow tubuhnya sangat gagah tertimpa sinar matahari yang memperlihatkan liuk indah tubuh tegap didepanku. Aku terpana sesaat dan aku memperbolehkan ia untuk membantuku mengoleskan sunblock pada punggungku. Ia tersenyum, dan kembali ke tempat semula. Lalu mulai menuangkan lotion ke telapak tangannya, meletakkan tangannya ke punggungku dan meratakan ke seluruh punggungku. Entah mengapa aku merasa…nyaman dengan debaran jantungku yang berdetak cepat. Aku menikmati tiap senti tangan Pras menyentuh kulitku, merasakan kenikmatan pijatan pelan Pras dan hembusan angin pantai.
“ Sudah…sekarang bisa main ke pantai” ujar Pras
“ Belum, tunggu duapuluh menit dulu, baru main ke pantai”
“ Huh! Lama bener sih mau main aja!!” Pras meninggalkan aku, ia kembali ke pantai, berenang bersama temen-temen cowonya.
Setelah duapuluh menit, aku mulai menapaki pasir pantai yang basah, merasakan deburan ombak kecil membasahi kaki dan kain pantai yang melapisi baju renangku. Sungguh indah ciptaan Tuhan ini…
“ Akhirnya…lo turun juga ke pantai” sapa Pras
“ Huh! Lo lagi lo lagi, mau apa sih?” tanyaku ketus kesal karena terus-terusan melihatnya sepanjang hari ini
“ Galak amat sih lo sama gua?”
“ Biar! Terserah gua mau galak kek, mau ramah kek! Gua udah bosen liat tampang lo!”
“ Oh” Pras lantas berhenti. Aku memutuskan untuk terus berjalan. Ia terpaku melihat keangkuhanku. Pras lantas berbalik pergi…
Terbesit rasa bersalah didadaku, tapi kuabaikan begitu mengingat bagaimana ia mengalahkanku saat voting.

Keesokkan harinya aku terbangun dengan perasaan segar dan sedikit pegal karena kurang terbiasa menggunakan springbed yang per-nya kurang nyaman. Aku memutuskan untuk berenang sebelum sarapan.
Saat ditengah kolam, aku merasa sedikit pusing ketika mengeluarkan kepala untuk mengambil nafas. Aku berusaha menghilangkan rasa pusing ini dengan memperlambat laju renangku, tapi tetap saja kepalaku rasanya berputar-putar. Aku tak kuat lagi menahan, aku berusaha untuk terus mengayuh ke pinggir, tapi aku tak kuat, aku…aku tenggelam.
“ Run…lo nggak apa-apakan?” seseorang menepuk-nepuk pipiku. Begitu membuka mata, sosok Pras sedang berada diatasku, wajahnya basah, seluruh tubuhnya basah kuyup, wajahnya sangat lega melihat aku membuka mataku.
“ Run, sukur deh lo nggak apa-apa. Untung ada Pras yang nolong, kalo nggak, tau deh gimana ceritanya” ujar Mela sambil memberikan segelas air untukku
“ Makasih Mel” ujarku lemah, Mela mengangguk membalas dan kerumunanpun mulai bubar, kecuali Pras yang masih menopang tubuhku dipinggir kolam renang. Ia mengelus kepalaku, menggengam tanganku erat.
“ Pasti belum makan ya?” aku mengangguk pelan menjawab pertanyaannya. Ia lantas mengangkatku dan menggendongku ke meja makan.
“ Ihh apaan sih?!” aku berontak untuk turun dari gendongannya
“ Sudah, lo masih lemah, lo makan dulu, baru boleh jalan biasa” ujar Pras datar sambil menurunkanku ke kursi makan. Sebenarnya aku tak menolak kebaikkanmu Pras, hanya aku risih dengan pandangan penasaran semua mata yang melihat ke arah kami.
“ Nah, lo makan sereal aja ya? Biar perutnya hangat. Gua pesen dulu ya” Pras pergi meninggalkan aku sendirian di meja makan.
Setelah beberapa jam setelah kejadian pagi tadi, aku merasa lebih sehat sekarang. Aku memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar sore ini. Jalan-jalan dipinggir pantai sepertinya asik juga…
Ternyata benar, suasana yang tenang, deburan ombak membuat pikiranku sedikit rileks. Aku duduk di pinggir pantai, menikmati deburan ombak menyapuku dengan airnya yang jernih. Aku menengokkan sedikit kepalaku ke kiri dan melihat sesosok pria sedang berjalan pelan ke arahku.
“ Ngapain lo kesini?” tanyaku pada Pras yang ikut duduk disebelahku
“ Pengen aja…pengen tau apa yang lo lakukan disini, kaya’nya enak?!” balas Pras kalem
“ Ya...lebih rileks aja! Sunsetnya bagus banget!!”
“ Kalau nyobain metode gua gimana?”
“ Kaya’ gimana?” tanyaku penasaran. Pras lantas meluruskan kakinya, membiarkan semua kakinya basah kuyup tersiram deburan ombak, menutup matanya sambil tersenyum. Sekitar limabelas detik kemudian ia membuka matanya sambil menghembuskan nafas yang panjang dan memandang kearah sunset beach yang sangat indah.
Aku hanya menatap takjub kearahnya, tanpa pikir panjang aku langsung meniru apa yang baru saja Pras lakukan. Benar saja, rasanya pikiranku lebih rileks dan santai.
“ Wow hebat!! Metode lo bagus banget!!” seruku kearahnya
“ Oya? Sukur deh…kali aja bisa bikin lo lebih seneng?!”
“ Ya…rasanya pantai ini lebih bagus…dapet darimana metode tadi?”
“ Dari pertama kita survei, gua tiba-tiba dapetin dan rasanya bener-bener bikin gua lebih enak aja?!” ujar Pras
“ Oh…mmm gua masuk dulu ya?!” ujarku sambil beranjak bangun. Secepat kilat Pras memegang tanganku, menahanku untuk pergi
“ Jangan pergi dulu…sunsetnya belon abis, temenin gua disini ya?” pinta Pras lembut. Aku jadi tersipu mendengar permintaannya, tak kusangka Pras memang baik, beda dengan cowo-cowo yang lain, hanya peduli pada status dan materi. Aku tersenyum setuju kearahnya, lalu duduk disebelahnya.
“ Thanks lo mau nemenin gua” Pras berterima kasih padaku
“ Ya sama-sama. Itung-itung balas jasa tadi pagi”
“ Lo sih nggak sarapan dulu! Besok kalau mau renang sarapan dulu ya?” ujar Pras sambil mengelus kepalaku
“ Ya” jawabku pendek. Sebenarnya saat ini aku berada diambang malu dan senang. Malu karena ternyata sikap burukku terhadapnya selama ini justru dibalas dengan kebaikkan, dan senang karena Pras bersikap sangat manis terhadapku.
Sore itu aku habiskan waktuku dengan Pras menikmati sunset beach bersama.

“ Marun!! Mau ikut ke pasar malam?” tawar Pras ditengah-tengah lobby hotel, terang saja sebagian orang yang berada di ruangan itu mendengar ajakan Pras kepadaku, lalu mendelik kearahku, terutama cewe-cewe. Aku jadi agak malu menjawab pertanyaannya, aku diam saja. Pras lantas menghampiriku yang sedang duduk di sofa.
“ Maukan ikut ke pasar malam? Malam ini yang terakhir lo, jadi sayang kalau nggak ikut!” ajak Pras riang sambil meremas jariku
“ Dimana sih?” nada ketusku keluar lagi, sebenarnya aku tak mau bersikap buruk terhadapnya setelah sore tadi kami menghabiskan waktu bersama, tapi ini harus kulakukan untuk menghindari tatapan judes dari cewe-cewe yang sekarang menatap curiga padaku.
“ Itu di tengah kota, yuk ikut aja, daripada baca buku”
“ Males ah!! Lagian buat apa ke pasar malam?”
“ Kita bisa belanja, buat oleh-oleh. Atau mainin permainan yang biasanya ada di pasar malam, kaya’ komidi putar atau…”
“ Males!!” potongku ketus sambil menutupi wajahku dengan buku dan membiarkan Pras kecewa.
“ Kok gitu sih? Dia-kan niatnya baik?! Pengen lebih deket sama wakilnya sendiri, lo malah ketus begitu” Mela menasihatiku begitu Pras terlihat berjalan sendirian keluar dari hotel
“ Biarin!!” balasku tambah ketus
“ Terserah lo!” Mela pergi dari sampingku. Setelah kepergian Mela, rasa bersalah memenuhi benakku. Benar kata Mela, Pras hanya berusaha bersikap baik terhadapku, mengapa aku justru membalasnya dengan sikap buruk. Aku bangkit dan berlari menuju kamarku, melempar buku dan bergegas memanggil taksi ke pasar malam.
Di pasar malam sangat meriah dengan kelap-kelip lampu, alunan musik ceria, dan hingar-bingar orang yang berlalu-lalang. Aku malayangkan pandanganku mencari Pras, aku ingin meminta maaf kepadanya, aku akan mengubah sikapku terhadapnya.
Jam di tanganku menunjukkan pukul delapan malam, sudah satu jam aku mengitari pasar malam mencari Pras, tapi belum ketemu juga. Capek ah, mungkin segelas jus bisa menyegarkanku lagi. Aku lantas membeli jus dan harum manis, duduk di bangku taman untuk istirahat. Dihadapanku tampak sosok Pras sedang duduk sendiri. Aku yakin itu Pras, akhirnya kutemukan juga dia.
“ Pras?!” aku menyentuh bahunya
“ Gua bukan Pras” ujar cowo itu
“ Gilang? Ma-maaf, gua kira Pras”
“ Pras lagi duduk disana, di pinggir kolam air mancur. Itu disana!” tunjuk Gilang ke arah kolam
“ Makasih” aku lantas menghampiri Pras dari belakangnya, kejutan untuknya.
“ Mau?” tawarku sambil menyodorkan harum manis ke arahnya. Ia melirik ke arahku dingin mengabaikan tawaranku begitu saja. Aku lantas berputar supaya bisa duduk disebelahnya.
“ Ini enak lo, atau mau jus?!” tawarku lagi, ramah sekali
“ Nggak!!” ketus sekali Pras menolak tawaranku. Aku merasa makin bersalah dibuatnya…
“ Maaf…gua selama ini selalu ketus sama lo. Padahal lo selalu baik sama gua, perhatian sama gua..”
“ Kenapa?” tanya Pras memotong kalimat permintaan maafku
“ Hah? Kenapa apa maksudnya?” aku balik bertanya
“ Kenapa lo benci sama gua? Kenapa lo paling nggak suka kalau ada gua? Gua salah apa sama lo?” tanya Pras sambil menatap tajam kearahku
Kali ini aku tidak bisa menjawab pertanyaan yang diajukan untukku dengan lugas dan tegas seperti biasanya.
“ Jawab Run” Pras mendesakku. Aku benar-benar sangat ragu dan malu untuk menjawab pertanyaan Pras…tapi, aku harus mengakui semuanya…dengan berat aku mengaku…
“ Lo ngalahin gua saat voting” jawabku datar, berusaha senormal mungkin mengakui kekalahanku
“ Karena voting?” tanya Pras heran
“ Ya…baru saat itu gua dikalahkan oleh orang lain. Gua bener-bener terpukul, kecewa, sekaligus benci sama orang yang ngalahin gua, yaitu lo Pras” aku menjelaskan duduk perkaranya
“ Sampai sekarang lo masih benci sama gua?” tanya Pras lagi
“ Nggak!!” jawabku cepat, yakin sekali dengan jawabanku ini
“ Kenapa?”
“ Lo udah baik sama gua. Lo tulus berbuat baik sama gua, gua tau lo ada niat baik sama gua. Makasih, dan maaf…” aku menunduk menatap ujung sepatuku, berharap Pras mau memaafkanku. Sedetik kemudian Pras meremas jemariku, menarik tanganku dan merangkul bahuku berjalan menuju pasar malam. Aku menatap wajahnya yang riang, senang sekali Pras memaafkanku.
“ Mau naik kincir ria?” tawar Pras
“ Gua takut ketinggian” jawabku cepat
“ Lo mulai ketus lagi sama gua?” tanya Pras kecewa
“ Bukan!!! Asli gua emang phobia ketinggian, kalau lo nggak percaya tanya aja Mela” ujarku menjelaskan. Pras malah menarik tanganku dan memaksaku untuk duduk disebelahnya menaiki kincir ria.
“ Kalau sama gua pasti aman!!” Pras menenangkanku. Aku ketakutan setengah mati. Kututup mataku erat-erat, kugenggam tangan Pras erat, takut sekali…
Rasanya aku sedang berada dipuncak kincir, angin besar meniup rambutku. Pras merangkul bahuku dan meremas jariku. Aku ada dalam pelukkannya saat ini.
“ Ayo buka matanya, bagus banget lo pemandangannya” ajak Pras kalem
“ Nggak mau!!! Takut!!”
“ Coba pelan-pelan buka mata lo…ayo” ajak Pras lagi. Aku menuruti kata-katanya, ku buka perlahan mataku, menatap gelapnya langit dan indahnya kelap-kelip lampu dibawah sana makin mantap dengan tambanhan hembusan angin malam yang semilir lembut. Sesaat setelah menikmati pemandangan indah itu, spontan rasa takut menggerayangi tubuhku, aku langsung mendekap tubuh Pras. Aku berusaha untuk tidak menangis ketakutan, aku tak ingin menunjukkan kelemahanku dihadapan Pras.
“ Tenang Run…its just a game, kalau lo nggak mau lagi, kita bisa turun kok!”
“ Nggak, gua mau coba lagi”
“ Bener?” tanya Pras takjub. Aku menganguk mantap.
Sekali lagi angin kencang berhembus, aku membuka mataku dan menikmati keindahan sesaat pasar malam dibawah sana. Kali ini aku berusaha mengantisipasi rasa takutku, meskipun masih tegang, aku sudah bisa menikmati tegangnya ketinggian. Putaran keempat kincir ria, aku sudah mulai terbiasa dan tidak takut lagi…
“ Hebat!! Lo sekarang udah nggak setakut dan setegang tadi, belajar cepat sekali!!” ujar Pras riang
“ Ya, ternyata gua bisa juga ngilangin phobia gua. Ternyata naik kincir ria asik juga ya?!”
“ Ya” Pras lantas memelukku dan menikmati udara malam bersama.
Setibanya di hotel, Pras tidak langsung menuju kamarnya, tapi mengantarkan aku sampai depan pintu.
“ Makasih ya udah mau nemenin gua ke pasar malam” ujar Pras lembut sambil menggenggam tanganku
“ Gua yang mestinya berterima kasih sama lo. Lo udah ngilangin phobia gua!”
“ Bukan gua yang ngilangin phobia lo, tapi diri lo sendiri”
“ Tapikan dibantu sama lo!”
“ Ok Ok makasih kembali. Udah malam, istirahat, besok kita pulangkan?!” ujar Pras mengingatkan
“ Ya…good night” ujarku pelan, membuka pintu kamarku, beranjak masuk ke kamar. Tiba-tiba Pras menahanku, membalikkan badanku ke arahnya, menarik tubuhku mendekatinya…Pras mencium keningku…
“ Good night, have a nice dream” ujarnya lembut. Aku tersenyum menatapnya, entah mengapa aku membiarkan Pras mencium keningku, tapi biar, aku tak ingin munafik terhadap diriku sendiri yang sekarang sedang tersenyum riang ditempat tidur membayangkan wajah Pras dan hangatnya pelukkannya.

“ Aduuuh kok gua lupa beres-beres mau pulang ya?!” aku mengeluh sendiri
“ Lo sih pulang malam, langsung tidur pula!!” timpal Mela sambil ikut membantu mengepak pakaianku
“ Makasih ya Mel, untung ada lo!”
“ Emang tadi malem kemana sih Run?” tanya Mela bijak
“ Pasar malam”
“ Pasar malam? Kalau lo mau kesana, kenapa waktu diajak sama Pras lo nolak?!” tanya Mela lagi
“ Mmm nggak tau ah!!!”
“ Wah kaya’nya bakalan ada pasangan baru nih” sindir Mela sembari ngeloyor pergi meninggalkan aku yang berdiri terpaku tersenyum tersipu malu mendengar candaan Mela yang cukup masuk diakal.

“ Ke pantai yuk?” ajak Pras, suaranya terdengar sangat semangat sekali
“ Hah? Ini jam 5 subuh Pras…ngapain kita kesana?” tanyaku malas-malasan, yang benar saja, masa aku jalan ke pantai jam segini?
“ Sunrise disini nggak kalah bagus sama sunsetnya, jadi buruan kesini dong!!” pinta Pras lagi. Mendengar alasan Pras yang menarik membuat semangatku bangun dan akupun bergegas menuju pantai.

“ Pagi” sapaku sesampainya di pantai. Pras nampak sedang menikmati hembusan angin sambil menutup matanya rapat-rapat. Wajah Pras yang menenangkan membuatku bergegas duduk disebelahnya, ingin juga menikmati sensasi kedamaian yang sedang ia nikmati saat ini.
“ Pras, lo kok suka banget sama pantai sih?” tanyaku sambil memejamkan mataku
“ Mmm karena pantai sangat indah, tenang dan….”
“ Dan apa?” aku menoleh ke arah Pras yang menghentikan kata-katanya
“ Dan..”
“ Iya…dan apa?” tanyaku penasaran
“ Cantik…sama seperti bidadari yang sekarang ada disebelah gua”
Mendengar kata-kata terakhir Pras menyentuh kalbuku yang selama ini dingin terhadapnya. Apa benar Pras menyukaiku? Apa benar ia tulus? Apa dia hanya main-main saja? Pertanyaan bernadakan curiga terus berdatangan menghantam kepalaku. Kali ini aku tidak menelan mentah-mentah prasangka burukku, justru kali ini aku mencoba untuk membuka pikiranku terhadap Pras. Pras bisa saja benar, jujur dan tulus. Ya…mungkin kali ini Tuhan mengirimkan Pras untukku yang selama ini mengidam-idamkan seorang kekasih yang tulus. Ya, aku makin mantap saja dengan keputusanku untuk bisa menerima keberadaan Pras dihatiku.
“ Kok malah ngelamun?” pertanyaan Pras membuyarkan kemelut di pikiranku.
“ Lagi mikir kok! Apa bener lo tulus ngomong kaya’ gitu? Atau hanya bercanda aja?”
“ Jadi, lo pikir selama ini gua main-main sama lo?” mimik Pras berubah serius, tak enak aku dibuatnya.
“ Bukannya gitu…gua cuman mikir kalau..”
“ Kalau gua suka sama lo? Ya, gua selama ini memang suka banget sama lo. Dari awal kita saingan untuk jadi ketua OSIS gua udah suka sama lo. Sampai detik ini gua masih suka sama lo dan”
“ Kenapa lo tahan dengan sikap dingin gua selama ini? Kenapa lo baru berani sekarang ngedekitin gua?” potongku
“ Gua tahan dengan sikap dingin lo karena gua pikir lo bakalan nggak dendam lagi sama gua kalau nggak gua ladenin! Dan kenapa gua baru deketin lo sekarang karena…”
Aku terkejut mendengar alasan bijaknya mengapa ia bisa bertahan dengan sikapku selama ini. Rasanya saat ini aku makin sayang saja pada Pras. Aku tak menolak ketika Pras mencondongkan tubuhnya ke arahku dan mencium bibirku untuk pertama kalinya.
Aku membuka mataku perlahan menatap sunrise yang menimpa kulitku pagi itu. Rasa basah masih tersisa di bibirku yang tersenyum menatap Pras yang mengulurkan tangannya untuk bangun dan kembali ke hotel.
“ Eh lo langsung ke atas aja ya, gua mau ketemuan dulu sama temen gua di café” ujar Pras sewaktu mengantarkan aku kembali ke kamar.
“ Ya, see ya” ujarku riang menuju lift yang sudah terbuka
Pras berjalan cepat menuju cafetaria di pinggir kolam renang. Disana terdapat dua sosok remaja yang sedang mengobrol ringan sambil minum jus jeruk.
“ Sukses?” sapa Bobby, teman Pras, sambil menawarkan tempat duduk disebelahnya.
“ Sukses dong!!! Pras gitu loh!! Cowo gua pasti bisa!!” timpal Mela tak kalah riang
“ Hahaha kalau cuman kissing dia aja, itu sih gampang. Gimana cek gua, udah ready?” ujar Pras kalem sambil meneguk jus jeruk.
R 8 Oktober 2004

Abangku



“ Aduh kemana Mama ya?” Marun berputar mencari-cari dimana gerangan Mamanya berada. Marun lalu menelfon mamanya lewat telefon umum koin.

“ Ma, mama dimana? Kok Marun ditinggal sendirian sih?” ujar Marun begitu telefon diangkat
“ Aduh maaf sayang, mama harus pulang duluan, kamu naik angkot aja ya” ujar mama Marun ditelfon
“ Naik apa? Bus atau..” pertanyaan Marun terpotong, “ Sial, lagi butuh malah error telefon umumnya!!” umpat Marun. Ia lantas mondar-mandir di halte berfikir mengira-ngira jurusan apa yang sebaiknya ia pilih untuk kembali pulang ke rumah.
“ De, kok mondar-mandir? Bingung naik apa ya?” sapa seseorang dibelakang Marun. Marun cepat-cepat membalikkan tubuh waspada, kalau saja ia hendak berbuat jahat padanya. Tapi tidak, penampilan orang tersebut sangat sopan, rapi, tampak seperti orang yang sangat terpelajar dan sangat tampan.
“ Mmm iya” jawab Marun cepat
“ Memang mau ke arah mana?” tanya lelaki itu, dia nampak sebaya dengan Marun
“ Ke arah Cimahi”
“ Ooo jauh juga ya? Kalau mau ke Cimahi naik yang warna hijau ini, atau bisa naik angkot yang lewat tol, itu disebelah sana” lelaki itu menunjukkan dimana Marun harus naik angkot
“ Terima kasih” ujar Marun
“ Atau mau saya antar?” tawar lelaki itu
“ Nggak makasih, permisi” tolak Marun sopan, ia buru-buru menyetop angkot yang ditunjuk lelaki tadi dan naik. Dalam perjalanan pulang, Marun berfikir keras, mengingat-ingat apa pernah ia bertemu dengan lelaki itu sebelumnya. Rasanya ia mengenal dia, tapi dimana dan kapan ya? Entah, mungkin itu hanya dejavu saja…

“ OOI KAMU ANAK BARU!!! KEMANA AJA KOK TELAT?!” tanya kakak kelas yang sedang nge-MOS Marun galak
“ Sa-saya kesiangan karena rumah saya jauh, dan tadi angkotnya ngetem, maaf” jelas Marun sambil menunduk. Marun memang pemalu, ia tidak seperti teman-teman sebayanya yang lain. Marun lebih banyak diam, murung, tidak seceria remaja yang lain, mungkin karena trauma waktu kecilnya, ia ditinggal pergi oleh ayahnya dan kakaknya. Sejak itu Marun hidup miskin dari yang tadinya hidup berkecukupan bahkan bisa dibilang keluarga kaya. Marun memendam perasaan sedihnya selama bertahun-tahun, sendirian.
“ Alah…alasan aja!! Udah kamu masuk ruang detensi sana!” suruh kakak kelas Marun lagi. Marun menuruti apa kata kakak kelasnya, ia berjalan gontai ke ruang detensi.
“ Kamu kenapa?” tanya seseorang yang suaranya pernah Marun kenal sebelumnya
“ Saya…saya telat datang” jawab Marun sedikit terpana begitu melihat wajah orang yang bertanya padanya, ternyata ia adalah lelaki yang ia temui di halte bus kemarin
“ Lo kamu? Kamu sekolah disini?” lelaki itu balik bertanya, Marun menganggukkan kepala menjawab pertanyaannya
“ Saya harus dihukum, Kak” ujar Marun ragu
“ Hehe iya, udah sana kamu duduk aja. Anggap ini bonus dari saya. Gimana kemarin angkotnya?”
“ Terimakasih, saya bisa pulang sampai di rumah”
“ Oya kenalkan, saya Arya” lelaki itu menjulurkan tangannya, Marun menyambut perkenalan itu dengan senang hati
“ Marun”
“ Marun? Nama yang bagus ya?! Kamu baru disini ya Run?” tanya Arya
“ Ya, saya baru dari Surabaya”
“ Kenapa pindah ke Bandung?”
“ Ibu saya ada kerjaan di Bandung, jadi kita pindah rumah ke Bandung”
“ Ooo, eh udah sana balik keluar baris lagi!! Selamat datang di Bandung ya?!” ujar Arya ramah. Marun lantas keluar dan kembali mengikuti kegiatan MOS sekolahnya.
Marun saat ini adalah siswa SMU negeri paling favorit dikota Bandung, pantas saja ia bisa masuk kesana, Marun memang jenius apalagi untuk urusan Fisika.
“ Marun, pulang bareng yuk? Saya anterin” ujar Arya sesudah acara MOS selesai
“ Hah? Nggak makasih” tolak Marun sopan, ia tak mau begitu saja pergi berdua bersama orang yang baru saja beberapa jam yang lalu ia kenal
“ Waktu itu juga kamu nolak permintaan saya…Ayolah, lagian-kan udah malem, nanti susah angkot lo” ujar Arya meyakinkan Marun
“ Masa sih kalau malam ke Cimahi susah angkot?” tanya Marun cemas
“ Iya…kalau nggak percaya silahkan cari sendiri” ujar Arya sambil membalikkan tubuhnya
“ Iya-iya…Saya mau pulang bareng kamu” ujar Marun cepat
“ Gitu dong!!” ujar Arya tersenyum puas. “ Silahkan” Arya mempersilahkan Marun masuk ke mobil sedan mewah Arya. Marun terkesima sekali begitu duduk di jok berlapis kulit asli berwarna hitam yang empuk dan nyaman sekali. Wangi parfum mobil dan hawa dingin AC membuat Marun tersenyum menikmati keadaan yang tak pernah ia rasakan sebelumnya.
“ Cimahi ya” ujar Arya ramah sambil menyalakan mesin mobilnya
“ Jauh ya?” tanya Marun lagi
“ Lumayan, tapi searah kok! Gua di Setraduta, nggak tau ya?! Pokoknya searah sama tol ke Cimahi…kita lewat tol aja ya?”
“ Mmm kamu eh abang…mmm kelas berapa?” tanya Marun malu bingung harus memanggil Arya dengan sebutan apa
“ Hahaha bingung amat Mbak? Gua kelas tiga, panggil gua apa aja! Arya aja juga boleh kok” Arya tersenyum melihat gelagat Marun yang pemalu, Arya anggap Marun sangat lucu dan polos
“ Ma-maaf hehe saya bingung manggil apa. Mmm kalau panggil abang Arya boleh?” tanya Marun
“ Abang? Kamu besar di Jakarta?” tanya Arya
“ Nggak, cuman saya dulu punya kakak dan saya panggil dia abang”
“ Sama, dulu gua juga punya adik…tapi, sudahlah mending kita ngobrol yang lain Ok!!”
Sejak itu Marun dan Arya menjadi sangat dekat. Membuat seantero sekolah iri dengan kedekatan mereka. Maklum Arya memang cokibernya (Cowo kita bersama)  cewe sekolah, dan Marun memang menjadi incaran cowo sekolah karena wajahnya yang cantik dan sifat pendiamnya membuat cowo kalang kabut dibuatnya. Mereka dekat seperti sepasang kekasih saja, tapi mereka selalu menganggap hubungan mereka hanya sebatas teman saja, atau seperti kakak dan adik.
“ Bang…mau pulang bareng nggak?” tanya Marun ketika bertemu Arya waktu pulang sekolah
“ Iya, sekalian gua mau main ke rumah Marun. Bolehkan?” tanya Arya sambil menggandeng tangan Marun. Marun berhenti…
“ Main?”
“ Iya, nggak boleh ya? Takut ada yang marah ya?” Arya menatap mata Marun lembut
“ Abang nggak malu main ke rumah Marun?”
“ Hahaha bercanda ya? Jelas nggak lah!!!” ujar Arya sambil mengacak-acak rambut Marun

“ Selamat malam Bu” sapa Arya ramah pada mama Marun
“ Malam, makasih ya Nak sudah mengantarkan Marun pulang. Ayo makan malam dulu, kita makan malam bersama” ajak mama Marun ramah. Mereka bertiga akhirnya makan malam bersama di rumah Marun. Sesudah makan, Marun dan Arya duduk bersebelahan di teras depan rumah Marun, duduk bersila beralaskan tikar.
“ Duduk Bang! Pernah duduk di tikar-kan?” tanya Marun
“ Hehehe belum pernah…enak juga, rasanya dingin ya”
“ Marun, mama tidur duluan ya, selamat malam Nak Arya” pamit mama Marun
“ Malam Bu…Kapan ya Abang pernah liat ibunya Marun?” tanya Arya
“ Tadi” jawab Marun pendek
“ Rasanya pernah liat sebelumnya…tapi dimana ya?”
 “ Bang…abang ada-ada aja, ngeyel!! Mana mungkin pernah liat ibu Marun sebelumnya, asal!! Kaya’ sekarang nih, abang nggak ngapelin cewe abang? Sekarangkan malam minggu, kasian cewe abangkan?” tanya Marun membuka percakapan
“ Hahaha kamu itu memang lucu ya?!” ujar Arya sambil mencubit pipi Marun gemas
“ Ih pelan-pelan dong!! Sakit! Nih rasain!!” Marun membalas mencubit pipi Arya. Mereka akhirnya saling cubit yang diakhiri dengan pelukkan hangat Arya pada tubuh Marun. Marun diam saja menikmati pelukkan hangat Arya, Marun merasakan kedamaian yang belum pernah ia dapat dari siapapun, rasanya nyaman dan terlindungi berada dalam pelukkan Arya.
“ Mmm nggak apa-apakan kalau abang peluk Marun?” tanya Arya lembut. Marun terkejut sekali mendengar ucapan Arya, ia tak menyangka kalau ternyata perasaannya tidak bertepuk sebelah tangan. Marun menyunggingkan seulas senyum menjawab pertanyaan Arya. Arya tersenyum bahagia. Arya mendekatkan kepalanya pada Marun, dekat, dekat, semakin dekat, bibir mereka bersentuhan…Marun menutup matanya menikmati kenikmatan cinta yang datang padanya, perasaan Marun sangat bahagia, belum pernah ia merasa se-bahagia ini sebelumnya. Arya, terimakasih engkau telah memberikan kebahagiaan ini padaku, itu yang ada dipikiran Marun selama mereka berciuman…

“ Marun…bisa nggak malam minggu ini gua datang ke rumah Marun?” tanya Kiki
“ Mau apa Ki?” Marun balik bertanya, masih fokus pada kalkulator
“ Mmm mau ngomongin masalah keuangan kelas, kita mau perpisahan, nah enaknya ngumpul di rumah Marun aja! Sekalian ajarin Fisika ”
“ Ooh, kaya’nya nggak bisa deh! Abis pulang sekolah Bang Arya minta anterin untuk belanja” jawab Marun mendonggakkan kepalanya
“ Belanja bareng? Kalian kaya’ pasangan muda aja”
“ Memang”
“ Hah? Kalian udah nikah? Kapan Run?” tanya Kiki tak percaya. Marun bengong, kok nggak nyambung seeh?
“ Hehe maksud Marun, kita memang pacaran, tapi belon nikah! Gila aja kamu!!” ujar Marun menjelaskan
“ Ooo…ya udah nggak apa-apa kok Run”
“ Bener ya? Nggak apa-apa?” tanya Marun meyakinkan
“ Iya…tuh Kak Arya udah dateng…Halo kak!!” sapa Kiki genit
“ Halo…lagi apa?” tanya Arya sambil ikut duduk diantara Marun dan Kiki
“ Kita lagi itung-itung uang kelas untuk rencana perpisahan kelas nanti” jawab Kiki centil sekali, Marun hanya tersenyum kecut melihat tingkah laku temannya yang memang dari dulu suka pada Arya
“ Ayo Bang…katanya mau belanja? Yuk!” ajak Marun sambil mengalungkan tangannya pada tangan Arya, Arya menyambut Marun dengan senyuman
“ Ayuk!! Ki kita duluan ya?” pamit Arya pada Kiki, Kiki cemberut melihat pasangan serasi itu beranjak pergi
“ Kita mau belanja kemana sih Bang?” tanya Marun ketika duduk di jok sebelah Arya
“ Mmm kita ke BSM”



Di BSM
“ Mau pilih yang mana Run?” tanya Arya sambil memeluk pinggang Marun dari belakang, saat itu Marun sedang melihat-lihat boneka
“ Mmm nggak, cuman liat-liat aja kok!”
“ Suka yang ini?” tanya Arya menunjuk boneka beruang putih membawa bantal pink bertuliskan ‘ I love you’ yang berukuran super besar, tingginya kira-kira satu meter.
“ Suka” jawab Marun pendek
“ Mbak!! Tolong bungkus yang ini”
“ Buat Marun?” tanya Marun kaget
“ Iya, katanya suka”
“ Iya suka tap-tapi nggak harus dibeliin!! Bang jangan dibeli, mahal sekali!!” tolak Marun
“ Udah…yuk kita ke kasir!” Arya menarik tubuh Marun
“ Jangan dibeli Bang!!”
“ Ayo!”
“ Marun nggak mau nemenin Abang belanja lagi ah!”
“ Udah ayo!!” Arya membopong tubuh Marun ke kasir. Setelah membayar boneka beruang itu, Arya mengajak Marun ke toko parfum.
“ Marun suka parfum apa?” tanya Arya sambil memegang tangan Marun. Marun diam saja, lebih baik diam daripada menjawab pertanyaan Arya karena pasti Arya akan membelikan apa saja yang disebut Marun.
“ Kok diam aja?!…Marun marah?” tanya Arya sambil menjawil dagu Marun. “ Ya udah kalau Marun marah kita pulang!” ujar Arya ketus, pergi meninggalkan Marun sendiri. Marun terkejut, tak menyangka kalau Arya malah balik marah padanya.
“ Abang!! Tunggu…Jangan marah Bang! Iya-iya Marun jawab, Marun temenin abang belanja…Asal Abang jangan marah…please” mohon Marun sambil menggelayut di lengan Arya. Arya berhenti…
“ HA kena!!! Ketipu!!” seru Arya riang sambil mencubit pipi Marun
“ Ah…dasar Abang!!”
“ Hahaha yuk kita belanja parfum!” ajak Arya
“ Ja-jangan buat Marun! Buat Abang aja!!”
“ Yee kita belanjakan untuk Marun?!”
“ Buat yang lain aja!! Marun udah banyak banget dibeliin macem-macem sama Abang. Baju, tas, celana, buku, peralatan tulis, sampai tadi boneka, udahlah Bang buat Abang aja ya?!” mohon Marun
“ Mmm buat mama Marun aja ya?” tawar Arya
“ Boleh juga, lagipula mama memang udah lama nggak punya parfum”
“ Ya udah, kita beli yuk?!” ajak Arya

Suara mobil yang menderu didepan rumah Marun membuat Mama Marun melongok ke jendela memeriksa siapa yang datang. Melihat Marun dan Arya yang sedang berjalan bersama memasuki teras rumah, mama Marun langsung membuka pintu dan menyambut mereka.
“ Selamat Malam. Aduh Nak Arya belanjanya banyak sekali…Ini buat Marun semua?” tanya mama Marun terkagum-kagum melihat kantong pembungkus barang belanjaan yang berjubel.
“ Iya ini semua buat Marun. O iya ini ada buat ibu” ujar Arya sembari menyerahkan kotak berwarna merah muda yang bertuliskan merek parfum terkenal.
“ Terimakasih Nak…merepotkan saja…ayo masuk dulu, Marun buatkan minum buat Nak Arya ya?!”
“ Iya Ma” Marun masuk dan menyiapkan minuman untuk Arya
“ Sebentar ya Nak, ibu angkat telefon dulu” pamit Mama Marun begitu mendengar telefon rumah berdering. Arya lantas duduk di teras rumah, menikmati dinginnya angin sepoi-sepoi
“ Ini Bang, minum dulu” tawar Marun sambil menaruh minuman dan makanan kecil di samping Arya
“ Marun, mama pergi dulu ya?! Ada yang harus mama urus sekarang, mama pulang besok pagi. Ya?” ujar Mama Marun pada Marun. Marun menganggukkan kepala tanda mengerti.
“ Mau saya antar Bu?” tawar Arya sembari bangkit dari duduknya
“ Nggak usah, Nak Arya disini saja nemenin Marun sebentar, kasian sendirian…Mama pergi dulu ya” ujar Mama Marun sambil beranjak pergi.
“ Sini duduk disini” ujar Arya menyuruh Marun untuk duduk disebelahnya. Marun menurut
“ Ada apa Bang?” tanya Marun
“ Ini, Abang mau kasih ini” ujar Arya sambil meyerahkan kotak cantik berwarna putih yang dihiasi pita berwarna pink ke tangan Marun
“ Apa lagi Bang? Memangnya yang tadi semua belum cukup Bang? Nggak enak ah kasih kado terus, sedangkan Marun jarang banget kasih kado ke Abang. Marun…” kalimat Marun terputus karena ciuman lembut Arya pada bibir Marun…
“ Buka” ujar Arya lembut. Marun membuka kotak tersebut. Ternyata dompet cantik berbentuk bintang berwarna merah marun
“ Makasih…bagus sekali” ujar Marun pelan, terkesima melihat dompet cantik tersebut
“ Baguskan? Warnanya sama seperti nama Marun, biar cocok gitu!! Suka?” tanya Arya. Marun menjawab pertanyaan itu dengan kecupan pelan yang mendarat tepat di bibir Arya. Arya terkejut senang, wajahnya merona merah
“ Abang lucu ya kalau lagi malu gitu, pipinya merah” goda Marun
“ Malu? Nggak, abang nggak malu, cuman kaget, Marun cium abang?” Arya tersipu-sipu
“ Bolehkan? Abangkan pacar Marun, Marun punya hak dong!”
“ Whatever... Abang mau diapain aja sama Marun, silahkan”
“ Mmm Marun langsung pake dompet ini ya Bang?” lantas Marun mengeluarkan dompet berwarna hitam kecil dari saku belakang celananya. Mamindahkan isi dompet dan uang ke dompet baru pemberian Arya. Ketika hendak memindahkan foto keluarga Marun, Arya tiba-tiba tersentak kaget dan mengambil foto tersebut dari tangan Marun.
“ Kenapa Bang?” tanya Marun kaget
“ Marun dapet dari mana foto ini?” tanya Arya cepat, menatap tajam foto ditangannya seperti memegang senjata saja
“ Ini foto keluarga Marun sebelum mama sama papa Marun pisah, kenapa?” tanya Marun heran melihat keterkejutan Arya. Arya lantas mengambil dompetnya, mencari sesuatu di laci kecil dompetnya, dan mengeluarkan foto yang sama persis dengan foto yang dimiliki Marun. Marun terkesima melihat foto yang dikeluarkan Arya, Marun mengambil cepat dan kali ini gantian Marun yang terkejut.
“ Abang…punya dari mana?” tanya Marun
“ Ini juga foto keluarga abang waktu ayah sama ibu abang belum cerai” jawab Arya
Mereka terdiam, sama-sama bingung, apa benar pikiran mereka saat ini? Bahwa mereka sebenarnya adalah saudara kandung? Apa benar Arya adalah kakak yang selama ini Marun idam-idamkan? Apa benar Marun adalah adik yang selama ini Arya rindukan? Apa benar?
“ Nggak, foto kita beda” ujar Marun tiba-tiba
“ Nggak Run, ini foto yang sama. Layar, kostum, gaya, semuanya sama bahkan ukurannya juga sama. Abang ingat, dulu abang pernah bilang ke Marun kalau abang pernah liat mama Marun sebelumnyakan? Iya, ternyata betul, itu ibu abang sendiri, abang liat difoto ini!!” timpal Arya
“ Benar, ini mama” lirih Marun pelan setelah melihat lebih dekat foto milik Arya
“ Marun adalah adik abang yang selama ini abang cari” ujar Arya datar
“ Jadi abang adalah kakak kandung Marun?” tanya Marun tak percaya, Arya mengangguk. “ Jadi selama ini kita…kita pacaran, kita bareng, abang, nggak!” seru Marun gugup. Arya sedih melihat keadaan cewe yang disukainya sedih karena tahu akan kenyataan yang pahit ini. Arya lantas memeluk Marun, menenangkan Marun.
“ Nggak…Arya bukan kakak kandung Marun. Arya punya Marun, kekasih Marun, bukan kakak kandung…BUKAN!! Marun nggak mau kehilangan abang!! NGGAK!!!” jerit Marun
“ Tenang sayang…tenang…abang juga sama kaya Marun, sama-sama nggak mau terima bahwa kita adalah saudara kandung…sebaiknya kita pertemukan mama Marun dengan Ayah abang, baru kita bisa percaya betul tidak kalau kita ini saudara kandung?” Arya menenangkan Marun yang menangis dipelukkan Arya. Marun tak mau melepaskan pelukkannya pada Arya. Tak rela menerima orang yang sangat disayanginya sebagai kekasih harus berakhir dengan digantinya dengan kasih sayang seorang adik pada kakaknya.
“ Marun tidur dulu ya?!” ujar Arya lembut sambil menggendong Marun ke tempat tidur.
“ Marun nggak mau tidur!! Marun mau sama…sama…Arya” jawab Marun
“ Ok, Abang ambil dulu minuman ya?”
“ JANGAN BILANG KALAU ARYA ABANG MARUN!!” teriak Marun
“ Ok-ok! Arya bukan abang Marun Ok?! Arya ambil minuman dulu ya?” lantas Arya ke dapur mengambil minuman untuk menenangkan pikiran Marun. Sebenarnya Arya sama bingung, terkejut dan sama-sama tertekan menerima kenyataan ini. Tapi Arya menguatkan diri demi adiknya yang sudah lama ia cari selama ini, Marun, ia harus kuat dan meladeni apa saja kehendak adiknya yang sangat ia sayangi itu.
“ Minum du….. Marun?” Arya menjatuhkan gelas dari tangannya, terkejut melihat Marun yang tergeletak lemas dilantai, tangannya penuh dengan darah… Arya cepat-cepat menggendong Marun, membawanya ke rumah sakit terdekat….Arya ketakutan dan cemas setengah mati…
“ Marun sayang…sabar ya?! Jangan pergi tinggalin abang lagi…Marun, abang sayaaang banget sama Marun” ujar Arya cemas sambil terus mengendarai mobilnya secepat ia bisa dan berusaha fokus ke jalan. Marun banyak sekali mengeluarkan darah dari pergelangan tangannya.
Sesampainya di rumah sakit, Arya segera menelfon Ayahnya untuk segera datang kesana dan menanyakan apa benar mama Marun adalah mamanya?
“ Yah!!! Disini” seru Arya memanggil ayahnya yang baru saja datang
“ Ada apa Nak? Kamu sehat? Siapa yang masuk sini?” tanya ayahnya cemas
“ Marun” jawab Arya pendek menunduk lesu
“ Marun? Cewe kamu?” tanya ayahnya lagi
“ Ya…Yah..sebentar” Arya mengeluarkan foto keluarganya yang ada didompetnya dan di dompet Marun dan menunjukkannya pada ayahnya.
“ Foto ini sama Yah?” tanya Arya
“ Ya…memang kenapa?”
“ Ini foto ini juga milik Marun, kita punya dua foto yang sama persis!”
“ Marun punya foto ini??” tanya Ayah Arya tak percaya
“ Ya…benar Yah itu foto keluarga kita?” tanya Arya ingin memastikan
“ Ya, itu istri Ayah enam belas tahun yang lalu” jawab ayah Arya pendek
“ Jadi…Marun adik Arya?”
“ Kalau dilihat dari foto ini, nampaknya benar kalau Marun itu adikmu Nak…Ayah boleh lihat Marun?”
“ NGGAK!! Marun lagi nggak stabil, nggak boleh ketemu ayah!!” seru Arya sembari pergi meninggalkan ayah sendirian. Arya masuk ke kamar dimana Marun dirawat. Arya ingin sekali menitikkan air matanya ketika melihat keadaan adik kandung yang lama ia rindukan tertidur lemas terkulai kekurangan darah. Bibirnya pucat pasi, hidungnya dihiasi selang oksigen dan tangan yang bertahtakan jarum infus membuat Marun sangat berbeda dengan biasanya.
“ Marun kekurangan darah. Ada yang mau mendonorkan darah?” tanya Dokter seusai memeriksa keadaan Marun.
“ Golongan apa dok?” tanya Arya cepat, ia sangat bersedia memberikan semua darahnya agar Marun sehat kembali
“ Golongan darahnya O, rhesus negatif…sangat sulit mendapatkan darah bergolongan O apalagi rhesus negatif” sambung dokter lagi. “ Anda golongan O? tanya dokter pada Arya yang nampak kecewa
“ Saya…B rhesus positif” jawab Arya putus asa, ia menyesal sekali karena tidak bisa memberikan darahnya untuk cewe yang sangat ia sayangi
“ Saya O rhesus negatif…cepat donorkan darah saya Dok” ujar ayah Arya tiba-tiba
“ Mari Pak, silahkan” Dokter membawa ayah Arya memasuki kamar Marun untuk didonorkan darahnya pada anak yang telah lama ia tinggalkan. Arya bengong mengetahui kalau darah ayahnya sama dengan Marun. Jelas, Marunkan anaknya…Arya makin bingung harus berbuat apa…Makin jelas kalau memang benar bahwa dia dan Marun adalah kakak adik kandung. Disisi lain ia sangat bahagia karena akhirnya ia menemukan adiknya, disisi lain ia sangat menderita karena ia harus berpisah dengan cewe yang sangat ia sayangi sebagai kekasih karena cewe itu adalah adiknya sendiri…
“ Arya, masuk…Marun ingin bicara” ayahnya memberitahu Arya yang sedang duduk termenung menunggu
“ Ayah…Terimakasih” ujar Arya ketika bangkit dari duduknya. Hatinya berdebar cepat, senang karena keadaan Marun sudah membaik. Arya segera memasuki kamar Marun, menatap Marun yang berusaha tersenyum menyambut kedatangannya.
“ Marun…kamu nggak apa-apa?” tanya Arya sambil menggenggam tangan Marun, menciumnya pelan, lalu mencium kening Marun
“ Makasih banyak. Maafin kalau Marun sudah berbuat bodoh. Marun nyesel, Marun sudah ngecewain. Maaf ya…Bang” ujar Marun pelan. Arya menatap Marun takjub, apakah Marun menerima kalau Arya adalah kakaknya?
“ Marun nggak ngecewain kok! Asal Marun sehat lagi, ketawa lagi, sekolah lagi, belanja bareng lagi…Abang bahagia”
“ Bang…maaf ya kalau Marun nggak menerima posisi abang sebagai abang Marun yang sesungguhnya…Marun nggak mau kehilangan orang yang Marun sayangi”
“ Marun nggak akan kehilangan abang lagi…Abang akan disisi Marun terus, kita nggak akan berpisah lagi” ujar Arya sembari tersenyum bahagia
“ Sekarang…Marun punya abang beneran” ujar Marun tersenyum
“ Ya…Abang panggil Marun ‘adik’ ya?”
“ Mmm jelek! Jangan adik, terlalu berbahasa indonesia yang baik dan benar. Ade aja manggilnya, Ok?” canda Marun. Arya tertawa lepas mendengar candaan adiknya itu, lalu mencium tangan Marun lagi, lalu mengelus tangan Marun lembut
“ Ade…cepet sembuh ya? Abang pengen belanja lagi sama ade” ujar Arya semangat
“ Ya…Ade mau satu set lengkap make-up kitnya Body Shop ya?” pinta Marun
“ Jangankan satu set, sepuluh set bakal abang beliin, asal ade sembuh”
“ Tunggu ya, Marun pasti sembuh” ujar Marun tersenyum. Arya balas tersenyum.


R 30 Juli 2004