Selasa, 16 Juli 2013

The Shoulder To Cry On



Aku tersenyum puas menyadari posisi dan keadaanku sekarang. Aku adalah mahasiswa PTN favorit se-Indonesia. Setelah perjuangan mati-matianku menembus SPMB akhirnya aku mendapatkan keberuntungan ini dan menikmati hasil kerjaku sekarang.
“ Anak baru ya?” tanya seseorang di belakangku
“ Iya” jawabku riang
“ Ayo cepat masuk barisan sana!!!” bentaknya, aku langsung berlari mematuhi perintahnya. Ya, aku sekarang sedang dalam masa orientasi, jadi wajar saja aku dibentak-bentak mahasiswa lain yang lebih tinggi tingkat semesternya. Aku menikmati masa-masa ini, karena ini pasti akan menjadi moment indah yang tak akan terlupakan sepanjang masa.
“ Marun?” tanya seseorang di depanku, aku mendongakkan kepalaku, sedikit terkejut karena ternyata orang yang baru saja memanggilku adalah
“ Setyo? Wah hebat ya jadi salah satu panitia ospek… Apa kabar?” sapaku ramah
“ Baik…elo gimana?” balasnya tak kalah ramah seperti dulu
“ Baik juga, well you can see, I become your junior mate again!!” jawabku
“ Sure…Psst jangan keras-keras, nanti yang lain denger kita ngobrol, lo bisa dihukum!” ujarnya sambil menempelkan jari telunjuknya ke mulut tipis dan merona merah itu. Aku menganguk setuju lantas kembali mengerjakan tugas yang diberikan seniorku untuk menggambarkan peta denah kampusku.
“ Masih belon selesai?? Dasar pemalas!!” senior yang memberikan tugas padaku datang dan langsung membentakku begitu melihat hasil kerjaku yang belum selesai, “ CEPETAN DONG!! MASA GITU AJA NGGAK BECUS SIH?” bentaknya lagi. Ih biasa dong!! Gerutuku dalam hati
“ Udah dong Rasti…lagiankan bentar lagi juga selesai” bela Setyo
“ Ih lo malah belain dia lagi…Heh anak baru, kamu udah ngapain dia? Ngerayu ya?” bentaknya lagi padaku sambil melotot padaku
“ Nggak, saya sedang ngerjain ini kok!! Nggak ngerayu dia!! Kegatelan amat!!” balasku sedikit sengit, menurutku dia agak keterlaluan galaknya pada junior seperti aku yang sedang di ospek
“ Heh!! Berani ngelawan ya?” tantangnya
“ Bukannya ngelawan, cuman ngejawab pertanyaan anda saja kok!” balas ku kalem, aku tau apa konsekuensi bicara seperti itu di hadapannya. Dan benar saja, setelah mendengar ucapanku ia langsung menghukumku dengan push-up sebanyak 50 kali. Biar, aku sudah biasa melakukan ini tiap kali aku latihan Taekwondo semasa SMA dulu.
“ Sabar ya..dia memang nyebelin gitu kalau lagi PMS, gua tinggal dulu ya?” hibur Setyo sewaktu aku melakukan hukuman yang ku balas senyuman tanda aku akan baik-baik saja
Wah tak kusangka aku akan sekampus lagi bersama mantan kekasihku sewaktu di SMA. Mudah-mudahan saja ia bisa menjadi teman baik untukku sekaligus pembimbing karena aku benar-benar nol tentang Jakarta.
“ Jadi Setyo itu mantan lo Run?” tanya Bella, teman baruku di kampus, tak percaya ketika kami berjalan pulang setelah seharian di kampus menjalani masa ospek kami
“ Yep, kita pacaran sewaktu gua kelas satu dan dia kelas tiga. Jadi pengen ketawa kalau nginget masa indah itu. Benar-benar moment yang sangat indah buat gua” jawabku sambil tersenyum
“ Masa’ sih lo nggak tau kalau dia kuliah disini?” tanya Bella lagi
“ Nggak, soalnya kita nggak komunikasi lagi setelah putus”
“ Kenapa?” tanya Bella, mmm jawab nggak ya? Karena sebenarnya menyakitkan sekali kalau mengingat kejadian yang satu itu. Kami putus nggak baik-baik. Dia kira aku menduakan dia dengan Dito, sahabat karibnya sendiri, padahal hal itu tidak benar, karena aku sangat menyayangi Setyo dan sama sekali tak ada niatan buruk untuk menghianatinya, sama sekali tak ada. Sudahlah, lebih baik Bella tak tau, jadi kubalas saja pertanyaannya itu dengan seulas senyuman lebar dan buru-buru mengganti topik pembicaraan sore itu.

“ Pagi Run” sapa seseorang dibelakangku yang suaranya sangat aku kenali
“ Pagi juga, Setyo kok dateng pagi sih?” aku balas menyapa
“ Wes, kalo manggil gua harus pake ‘kak’ dong…” ujarnya
“ Sori,,, tapikan ini kuliah, bukan kaya’ SMA lagi harus pakai ‘kak’ segala” balasku cepat
“ Hahaha bercanda Run…kamu masih kaya’ dulu ya? Masih seorang pemberontak kalau prinsipnya diganggu orang lain” ujarnya kalem sambil duduk di kursi taman kampus, dia mengajakku untuk duduk di sebelahnya
“ Hehehe lo juga masih kaya’ dulu. Masih sok baik sama adik kelas” candaku
“ Hahaha emang gua baik kok!!”
“ Inget nggak kita ketemu juga pas gua lagi di MOS jugakan?” tanyaku kembali mengingat masa lalu
“ Pastilah…gara-gara MOS kita bisa pacaran” jawabnya pelan. Mendengar jawabnya membuat aku merasa bersalah karena telah membuka kembali luka hubungan cinta kami dulu.
“ Ma-maaf ya…Mmm kok lo nggak ngasih tau gua sih kalo lo kuliah disini?” tanyaku dengan nada riang berusaha mengembalikan suasana yang lebih nyaman
“ Lo juga nggak kasih tau gua kalau lo jadinya ke sini” balasnya
“ Nomor telfon lo udah ganti sih…jadi gua bingung gimana caranya ngontak lo, lagiankan kita udah bisa ngobrol, face to face pula!!” ujarku riang
“ Ya, nih nomor gua yang baru. Lo telfon gua kapan aja pasti gua layanin Ok?!!…O iya, kok jadinya Kedokteran Mbak?” tanyanya penasaran, “ Bukannya lo dulu ngotot pengen masuk Mesin?”
“ Mmm iya, nggak tau kenapa tiba-tiba gua dikasih mimpi yang isinya ngejelasin bahwa gua lebih baik ambil jurusan ini kalau gua mampu. Well you see, gua mampukan?”
“ Ya, kita bisa jadi Dokter bareng dong?” godanya
“ Tergantung…kalau gua lebih cepet lulus daripada lo, jelas kita nggak bisa jadi dokter bareng” balasku asal
“ Yee ni anak masih ada aja ngeyelnya, gua buktikan kalau gua tuh bakalan jauh lebih dulu lulus daripada lo” balasnya antusias
“ Ya pasti-lah…mikir dong Mas, lo-kan masuknya lebih dulu tiga tahun daripada gua, jelas aja kalau lo lulus duluan” yang diiringi tawa lepas Setyo dibelahku

“ Kamu ngapain sih sama tu cewe di taman tadi pagi” tanya Rasti curiga pada Setyo
“ Cewe yang mana?” Setyo balas bertanya
“ Anak baru yang waktu itu lo sapa waktu masa ospek” jawab Rasti ketus
“ Ooo Marun”
“ Lo tau namanya? Hebat!!! Perhatian banget sih sama dia?”
“ Udah deh jangan macem-macem, dia tuh adik kelas gua waktu kita SMA. Udah puas?” jawab Setyo menenangkan Rasti yang gelisah
“ Bener cuman adik kelas?” tanya Rasti manja
“ Iya” jawab Setyo pendek
“ Ya udah, maafin kecurigaan gua ya? Itu karena gua sayang banget sama lo” Rasti lalu memeluk Setyo. Setyo membalas pelukkan itu dengan kecupan manis yang mendarat di kening Rasti. Aku melihat adegan romantis itu berlangsung, maklum tempat parkir adalah tempat umum, jadi wajar saja kalau tak sengaja aku melihat kejadian itu. Setelah melihat kejadian itu aku terdiam memikirkan betapa beruntungnya Rasti menjadi kekasih Setyo. Jujur saja aku masih ada perasaan pada Setyo, aku tak akan melupakan first love-ku selamanya. Bagiku Setyo adalah cowo yang pantas aku simpan selalu dalam hatiku yang paling dalam, tapi itu tak akan mungkin terbalas, karena sekarang aku tahu kalau Rasti adalah kekasih Setyo. Lebih baik lupakan dia dan cari cowo lain…

“ Marun!!” panggi Setyo sambil berlari kecil ke arahku. Aku membalikkan badan dan mendapati Setyo sedang kahabisan nafas dihadapanku.
“ Lo kenapa kudu lari-larian segala sih?” tanyaku membantu Setyo duduk di kursi taman
“ A-abis..lo nggak denger melulu!” jawabnya masih dalam keadaan terengah-engah
“ Nih minum dulu” ujarku sambil menyodorkan air mineral padanya, ia langsung meneguk sampai habis dan mengeluarkan sesuatu yang tampak seperti CD
“ Ini…gua mau lo liat ini” ujarnya sambil memberikan CD berwarna biru, warna kesukaan kami berdua, padaku. Tapi sebelum CD itu sampai ke tanganku seseorang telah merebut CD itu dari tangan Setyo
“ CD apa ini?” ujar Rasti
“ Heh…Rasti?” tanya Setyo terkejut melihat kekasihnya
“ Iya ini gua Rasti, kenapa? Kaget ya?” ujarnya ketus, “ Ini CD apa? Kok dikasih ke dia sih?” tanyanya sambil mendelik ke arahku, jelas saja aku ingin segera membalas delikkan matanya dengan kata-kata pedas yang sebentar lagi keluar dari mulutku, tapi Setyo keburu menjawab pertanyaan Rasti
“ Itu CD punya dia, gua kembaliin karena dia perlu untuk proyek bandnya dia” Setyo berbohong, “ Iyakan Run?” tanyanya padaku untuk membuat Rasti percaya, yang langsung mendapat persetujuanku
“ Ooo lo anak band juga? Pegang apa?” tanya Rasti padaku sambil memberikan CD biru itu padaku
“ Gua pegang gitar rhytem, thanks” jawabku datar
“ Yuk pergi yuk?” ajak Rasti pada Setyo sambil menarik pergi Setyo. Sambil berjalan Setyo membalikkan kepalanya dan bicara ‘ Buka’ tanpa suara padaku, aku tersenyum dan mengacungkan jempolku kearahnya tanda pasti akan kubaca sesampainya aku pulang nanti.
Aku buru-buru pulang sehabis kuliah. Tetap saja aku harus bersabar lebih lama karena aku harus menghadapi kemacetan Jakarta sebelum sampai di rumah dan membaca apa isi CD yang tadi pagi diberikan Setyo padaku. Ahh andai saja aku punya mobil, pasti aku akan lewat tol dan sampai dirumah lebih cepat.
Sesampainya di rumah aku langsung berlari menuju kamarku. Tanpa ganti baju atau sekedar cuci muka, aku langsung menghidupkan komputer dan membuka apa isi CD biru itu. Dag, dig, dug, jantungku dibuatnya. Ternyata CD itu adalah..
“ Apa? Inikan foto-foto kita waktu kita masih pacaran dulu? Lagu ini pula?” ujarku pada diriku sendiri. Aku keheranan, apa maksud Setyo memberikan ini? Apakah ia ingin kembali mengingat masa lalu yang indah itu? Atau hanya sekedar ingin menunjukkan kenangan ini tanpa maksud lain?
And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely

And when the whole world was gone you won’t be alone

‘Coz I’ll be there

I’ll be your shoulder to cry on

I’ll be there… I’ll be a friend to rely

And when the whole world was gone you won’t be alone

‘Coz I’ll be there
Lirik lagu yang sedang bersenandung sekarang mengingatkan ku pada saat aku menangis di pelukkannya karena aku merasa tak kuat menjalani hari yang sangat berat karena ayahku telah meninggal. Di mobil Setyo saat kami menyatakan menjadi sepasang kekasihpun diiringi lagu milik Tommy Paige ini. Aduh…kok jadi kembali ke masa lalu disaat aku ingin membuat pengalaman baru saat ini. Mengapa Setyo memberikan aku CD ini? Apa maksudnya? Rasa penasaranku yang besar akhirnya mengalahkan egoku untuk tidak menghubungi Setyo.
“ Setyo? Ini Marun” sapaku ragu
“ Marun? Ada apa? Tumben telfon, gimana udah diliat CD-nya? Baguskan? Suka nggak? Ada yang perlu diedit lagi?” pertanyaan Setyo ngantri bak kereta api membuatku bingung harus menjawab yang mana
“ Satu-satu dong nanyanya…gua bingung jawab yang mana dulu?!” balasku
“ Iya-iya, gimana suka nggak?” tanyanya, saat aku ingin menjawab pertanyaannya tiba-tiba ibuku memanggilku
“ Aduh udah dulu ya nelfonnya, gua dipanggil sama ibu gua, see you tommorow” ujarlu cepat sambil menutup telefon dan menghampiri ibuku yang membutuhkan bantuanku untuk menyetrika baju.

“ Marun!! Hei…apa kabar?” sapa Setyo sepulang kuliah
“ Hei… baik. Mau pulang?” tanyaku
“ Ya..Mmm kita pulang bareng yuk?” tawarnya sambil menarik tanganku
“ Eeee cewe lo gimana?” aku berusaha menahannya
“ Ahh dia lagi sama temen-temennya…lagian kita nggak akan ketemuan kok! Ayo!” Setyo memaksaku masuk ke mobilnya
“ Wah…keren banget mobilnya?!” aku terkagum-kagum menikmati suasana high class mobil Setyo, “ Kok ganti mobil lagi? Padahal mobil yang dulu pasti belum rusak!”
“ Itukan mobil SMA, sekarang gua kuliah, semester lima pula, masa mobilnya itu-itu juga?” jawabnya sambil melajukan mobilnya keluar kampus
“ Dasar orang kaya…ganti mobil kaya ganti baju aja” ujarku datar
“ Apa? Dari dulu lo tuh tetep aja kalo ngejek gua, masih standar!!” balasnya
“ Biarin…lagipula emang benerkan?” balasku
“ O iya, gimana…suka CD-nya nggak?” tanya Setyo antusias
“ Hehehe iya…gua suka banget!! Eh setel radio ya?” ujarku sambil menyalakan radio yang langsung terdengar lagu…Shoulder to cry on nya Tommy Paige. Kami berdua terdiam, mendengarkan seksama lagu yang bersejarah buat kami berdua. Setelah lagu tersebut habis, baru Setyo kembali bicara
“ Kok pas ya lagunya itu?” ujarnya sambil menatap kearahku, saat itu lampu merah menghadang kami. Aku langsung menatap kembali mata teduh itu. Mata itu masih tetap amat yang dulu menarik hatiku, menenangkan jiwaku.
“ Mmm magic?” jawabku
“ Magic? Iya kali ya?” Setyo terdiam, lampu hijau menyala ia kembali mengemudikan mobilnya
“ Lho kok lurus? Mestinya belok!” ujarku
“ Gua-kan nggak tau rumah lo yang di Jakarta Mbak!! Lagian kita nggak langsung pulang kok!” balasnya kalem
“ Trus…mau kemana?” tanyaku
“ Ada aja!!”

“ Oalah ke Ancol…pake acara nggak jawab pertanyaan gua segala, gua juga tau kalo ini tu Ancol” ujarku riang sambil menikmati angin laut yang bertiup ke wajahku. Aku duduk di dinding pinggir laut dan menikmatinya teriknya matahari sore menyorot mataku, Setyo ikut duduk di sebelahku dan mengalungkan tangannya ke pundakku. Oh mungkin ini hanya sekedar tanda persahabatan saja, jangan berpikir yang macam-macam!!
Di Ancol kami menghabiskan waktu kami dengan mengobrol, bercanda dan makan malam bersama di Marina Cottage. Ternyata dia masih seperti Setyo yang dulu, Setyo yang perhatian, penyayang dan sabar. Moment indah di Ancol membuat kami menjadi dekat kembali. Kami sering pulang bareng, jalan bareng bahkan berangkat ke kampus bersama. Jelas ini membuatku teringat kembali masa pacaran kami dulu, ya seperti ini. Satu bulan dekat dengan Setyo membuat getar cinta mulai menghampiriku lagi, rasanya aku mulai jatuh cinta lagi pada Setyo…Oh tidak, dia-kan sudah punya Rasti, tapi aku tak mau munafik menerima kenyataan yang menyatakan bahwa aku menyukai Setyo lagi. Tiba-tiba terbesit rasa sakit yang teramat sangat ketika aku ingat ketika ia memutuskanku tanpa mau mendengar penjelasanku, kenapa Yo, kenapa kamu nggak mau mendengar penjelasanku? Sudahlah, biar pertanyaan itu tidak usah dijawab olehnya, yang pasti aku akan selalu menyukaimu, mungkin sampai aku mati…

“ Yo! Kamu nggak jalan bareng Rasti?” tanyaku ragu sewaktu ia mengantarkan aku pulang, ia terdiam tak menjawab pertanyaanku, “ Inikan malam minggu? Masa lo nggak ngapelin dia sih? Atau jangan-jangan lagi bokek ya?” candaku
“ Hahaha bisa aja, gua lagi ada masalah sama si Rasti. Jadi sekarang gua lagi rehat sebentar sama dia. Lagian asik aja jalan bareng orang lain, bosen sama dia melulu” jawabnya kalem
“ Mmm kalian ada masalah bukan karena gua deket sama lo-kan?” tanyaku ragu, aku takut kalau aku menjadi penyebab hancurnya hubungan orang lain
“ Nggak! Bukan karena itu kok!! Kita memang sudah lama beda pendapat terus…ya memang salah satunya tentang elo, tapi bukan elo yang jadi penyebab kita ada masalah..tenang aja kok!! Biasakan kalau orang pacaran ada masalah?!” ujar Setyo meyakinkan aku. Ooo untung saja..aku kira aku penyebab mereka ada masalah. “ O iya, kita ke Puncak aja yuk? Kita makan di sana, mau nggak?” ajak Setyo riang
“ Siapa takut?” jawabku tak kalah riang, asyik malam minggu begini aku bisa menikmati pemandangan indah Puncak di malam hari bersama Setyo. Wah pasti menjadi malam yang indah nih!
Sesudah kami makan malam bersama di salah satu restoran di Puncak, kami menepi ke pinggir jalan untuk memesan jagung bakar yang tampak menggiurkan. Selagi menunggu pesanan datang, aku duduk di jok belakang mobil sambil mendengarkan lagu keras-keras.
“ Keras amat sih?!” omel Setyo sambil mengecilkan voleme CD playernya, “ Ngapain duduk sendiri disini Mbak?” tanyanya sambil ikut duduk di sebelahku. “ Asyik ya suasana kaya gini, dingin, nyaman dan bikin hati tentram” ujarnya sembari menggenggam erat jariku. Jantungku berdebar cepat, apa maksud Setyo menggenggam jariku? Aduh jangan sampai aku salah tingkah, jangan sampai Setyo tahu kalau aku menyukainya…
“ Kenapa waktu itu lo putusin gua tanpa mau dengerin penjelasan gua?” aku tiba-tiba melontarkan pertanyaan yang sudah lama aku ingin tanyakan padanya. Ia terdiam sejenak, menoleh padaku dengan tatapan marah yang baru dua kali aku lihat, terakhir aku lihat sorot mata ini ketika kami bertengkar dan dia memutuskan aku.
“ Nggak usah kamu tanya masalah itu, nggak perlu ada yang harus di jelasin!! Jangan kaya sinetron ah!!” ujarnya ketus sambil beranjak keluar dari mobil. Aku cepat-cepat manahannya dengan menarik sebelah tangannya dan memaksa dia untuk tetap duduk disebelahku dan mendengarkan penjelasanku.
“ Lo tetep duduk disini Yo!! Mau nggak mau, malam ini lo harus tau kejadian yang sebenarnya antara gua sama Dito” ujarku serius
“ Nggak usah sebut nama itu lagi!! Dia sudah menghianati gua!!” balasnya cepat, marah menguasainya
“ Dito sama gua nggak tidur bareng malam itu!!” ia terdiam lagi begitu mendengar ucapan terakhirku
“ Sabtu itu gua lagi nungguin lo di Lembang, seneng banget, karena gua mau date sama lo untuk merayakan kelulusan lo dari sekolah. Kebetulan disana juga ada Dito bersama teman-teman geng basketnya yang juga sedang merayakan kelulusan mereka. Dito nemenin gua nungguin lo dateng dengan ngobrol dan minum yogurt bareng. Tapi lo nggak dateng juga!!” jelasku panjang
“ Ibu gua masuk rumah sakit, gua harus nemenin dia. Gua nggak bisa ngasih tau lo karena lo nggak punya Hp…itu kenapa gua nggak dateng ke Lembang” sambung Setyo
“ Jadi itu kenapa lo nggak dateng?!” tanyaku
“ Ya” jawabnya pendek
“ Mmm karena gua marah lo nggak dateng juga, gua buru-buru balik, dan kaki gua kesandung. Gua jatuh dan nggak bisa berdiri, karena ternyata tulang kering gua retak karena terbentur batu sewaktu gua jatuh, kalau lo nggak percaya, nanti gua tunjukin hasil rontgen-nya. Dito nolongin gua, ngegendong gua, nyariin angkot, ternyata nggak ada angkot yang lewat karena udah malam. Jadi Dito cari tumpangan mobil buat bawa gua ke puskesmas terdekat. Untungnya ada puskesmas, tapi udah tutup. Dito udah kehabisan akal, dan dia panik banget karena gua kesakitan dan nggak kunjung bisa berdiri. Akhirnya Dito bawa gua ke hotel terdekat. Kaki gua dibersihin, dibalut kain dan dia nyuruh gua untuk tidur di tempat tidur, sedangkan dia tidur di sofa. Paginya, dia langsung bawa gua ke rumah sakit…dan nyebarlah gosip kalau gua tidur bareng Dito di Lembang…dan lo percaya”  ujarku lemah tak kuat menahan air mata yang sekarang ingin tumpah dari mataku
“ Ya…gua tau cerita itu” ujar Setyo pelan
“ Apa?? Lo tau cerita itu sebelumnya dan lo tetep nggak percaya sama gua? Even your best friend?” tanyaku terkejut luar biasa, ternyata selama ini Setyo sudah tahu cerita yang sebenarnya.
“ Dito yang cerita lewat e-mail” sambung Setyo pendek
“ Lo masih tetep nggak percaya juga?” tanyaku lagi
“ GUA BINGUNG!!!” seru Setyo sambil mengepalkan jarinya. “ Gua bingung…apa bener cewe yang selama ini gua sayangi tega selingkuh sama sahabat gua? Gua bingung mau percaya atau nggak!!” ujarnya lagi, ada setetes air mata jatuh dari mata teduhnya. Setyo menangis??
“ Yo?? Maafin gua ya? Kalau gua buka luka lama lo” ujarku sambil menggenggam jarinya. Setyo menarik tanganku perlahan, memeluk tubuhku erat. Setyo memelukku? Oh Tuhan terima kasih…tenang Yo, akan gua lakukan apapun supaya lo merasa tenang lagi. Aku balik memeluknya, mengelus punggungnya dan mencium rambut lurusnya.
“ Maafin gua ya Run? Selama ini gua udah salah sangka sama lo dan Dito… Maaf” ujar Setyo pelan, suaranya kental sekali dengan nada penyesalan
“ Sudah gua maafin dari duluuu banget…udah ya? Lupakan aja…sekarang kita jalani lembaran baru sebagai sahabat”
“ Sahabat?” tanyanya sambil melapaskan pelukkan kami
“ Ya?!” jawabku pendek sambil tersenyum
“ Nggak!!” balasnya
“ Kok nggak? Katanya udah saling memaafkan? Kok nggak mau jadi sahabat sih?” tanyaku heran, oh tidak, aku tak mau kehilanganmu lagi…biarkan aku jadi sahabatmu, please…
“ Gua nggak mau jadi sahabat lo!!…Gua mau kita kaya dulu lagi…lo jadi cewe gua lagi…mau-kan?”
Apa?? Apa aku tak salah dengar? Tentu saja aku mau. Gila kalau aku menolak permintaan Setyo itu. Spontan aku memeluk Setyo erat, bahagia sekali. Masa bodo dengan urusan Rasti, yang penting Setyo menjadi milikku lagi, tak akan kulepaskan lagi begitu saja…
“ Ya gua mau jadi cewe lo…kaya dulu” jawabku mengulum senyum. Beberapa detik kemudian kami berciuman…hangat dalam pelukkan Setyo…hatiku tenang mendengar bait lagu indah yang mengalun saat kami berciuman…

Life is full of lots of up and down

But the distance  feels further when we tad it for the ground

And there’s nothing more painful than to let your feelings take you down
It’s so hard to know the way you feel inside
When there’s many thoughts and feeling that you hide
But you might feel better if you let me walk with you by your side

And when you need a shoulder to cry on
When you need a friend to rely
And when the whole world was gone you won’t be alone
‘Coz I’ll be there
I’ll be your shoulder to cry on
I’ll be there… I’ll be a friend to rely
And when the whole world was gone you won’t be alone
‘Coz I’ll be there

All of the times when everything is wrong
And you feeling like there’s no use going on
You can’t give it up I’ll help you work it up
And carry on..

Side by side with you till the end
I’ll always be the one to friendly hold your hand
No matter what  it said or done
Our love will always comes in your arm

“ Kok lagunya ini sih?” tanyaku melepaskan pelukkan, dan tersenyum menatap mata teduhnya
“ Tuhan tau kalau kita sudah bersatu lagi…nggak akan pernah gua lepasin lo lagi” jawab Setyo kalem, senyuman menghiasi wajahnya
“ Rasti?” tanyaku. Setyo langsung mengeluarkan telfon genggamnya, menekan nomor seseorang dan bicara…
“ Rasti…sori…gua harus putus sama lo” ujarnya datar. Apa? Setyo memutuskan Rasti didepanku? Demi aku?
“ Ya…terserah lo mau ngomong apa! Yang pasti gua nggak kuat lagi hubungan sama lo yang super manja dan cemburuan” sambung Setyo tegas. “ Sori kalau gua mutusin lo di telfon. Gua terdesak, gua akan ngomong sama lo besok. Yang pasti gua udahan sama lo sampai disini” sambungnya lagi. Terdengar suara marah Rasti yang menanyakan kenapa mereka putus, aku mendengar Rasti bertanya ‘ Marun-kan? Marun-kan yang jadi penyebabnya’
“ Ya…kita udah balik lagi. Gua nggak tahan menahan perasaan sayang gua sama dia. Gua nggak mau munafik! Lagi pula sudah lama gua udah nggak suka lagi sama lo, gua masih mau jadi cowo lo karena gua kasihan sama lo” jawab Setyo kalem. “ Sudah ya…maaf” Setyo lalu memutuskan telefonnya. “ So…jadi-kan kita pacaran?” tanya Setyo ramah padaku.
Mendengar pertanyaan Setyo terbayang betapa menderitanya Rasti sekarang…maaf Rasti, tapi aku tak mau Setyo lepas dari tanganku lagi. Dia cintaku, hidupku, segalanya bagiku. Aku lantas tersenyum padanya. Dan kami berpelukkan…

R 9 Juli 2004

The Secret



Marun pergi tergesa-gesa menuju mobil sedan berwarna hitam mengkilat yang menunggu di pelataran parkir di kampusnya. Didalam sedan tersebut terlihat cowok sedang berbicara pada handphonenya yang merupakan HP keluaran terbaru. Kacamata hitam melapisi matanya dan baju Armani putih melekat di tubuhnya yang kekar.

            “ Hai…maaf ya gua telat! Hehehe biasa temen-temen gua pada sok sibuk butuhin gua, padahal ga penting” ujar Marun sembari duduk disebelah cowok tersebut.

            “ Gak apa-apa kok, lagipula gua juga nggak lama-lama amat kok nungguin lo. Ya udah, jadi nih kita ke Bandung?” tanya David ramah

            “ Hah?? Ke Bandung?” Marun terkejut, ngapain ke Bandung? Mana gua belum minta izin ke orangtua pula, kayaknya nggak mungkin deh, pikir Marun.

            “ Kok ke Bandung sih?” kata-kata itu meluncur spontan dari mulut Marun yang kebingungan

“ Tenang aja, gua udah minta izin ke orangtua lo kok! Lagipula kita ke Bandungnya nggak nginep kok, jadi dibolehin” balas David kalem

“ Bener?” tanya Marun lagi

“ Ya…tenang aja, kita ke Bandung pengen nengokin temen yang sakit, so tenang aja…masih bingung?” melihat Marun yang masih kebingungan, lalu David mengelus rambut Marun pelan dan meyakinkan bahwa orangtuanya udah kasih izin buat Marun.

“ Ok!” jawab Marun riang.

Dalam perjalanan mereka tidak pernah berhenti dari ngobrol dan bercanda, maklum mereka memang pasangan yang dua-duanya penggemar Tom and Jerry, so pasti dua-duanya pada suka bercanda. Nggak pernah ada kata bosen dalam kamus percintaan mereka yang sudah berjalan hampir 4 tahun.

Mereka mulai merajut tali kasih sejak duduk di bangku SMA. Marun adalah adik kelas yang terpaut 2 tahun dari David, mereka jadian pada saat Marun kelas 2, dan David sudah menjadi mahasiswa di salah satu universitas negeri favorit di Jakarta. Sama seperti David, Marun juga akhirnya menjadi mahasiswi dimana David kuliah, hanya beda fakultas saja. Marun lebih suka Teknik, sedangkan David lebih memilih karier sebagai Dokter.

“ Eh, mampir dulu yuk!” ajak David sambil menepikan mobilnya memasuki salah satu restoran di Puncak

“ YEEE katanya mau jenguk kawan?! Kok malah makan hura-hura seeh?!” tolak Marun

“ Gua capek nyetir, berenti sebentar aja nggak apa-apakan?” tawar David

“ Ok” Marun setuju, Davidpun akhirnya menepikan lalu keluar dari mobil menuju tebing Puncak yang memiliki pemandangan perkebunan teh warisan Belanda yang luar biasa indah. David menghirup dalam-dalam udara sejuk Puncak, segar rasanya.

“ Sejuk banget ya” ujar Marun sembari memeluk David dari belakang

“ Eh, gua kira siapa”

“ Memang siapa lagi yang boleh meluk lo?” tanya Marun sewot

“ Hehehe ada dong!!” canda David

“ Iya…gua-kan?” tebak Marun asal

“ Salah!”

“ Hah? Siapa dong?!” Marun melepaskan pelukkannya, rasa cemburu mulai menjulur di sekitar tubuhnya

“ Nyokap gua, HAHAHA” timpal David sembari tertawa lepas, Marun kena sama candaannya

“ Ihh awas ya!” ancam Marun sambil menjawil pinggang David. David lantas menghindar memasuki mobil yang diikuti Marun. Tak sengaja Marun menindih David di bangku belakang mobil, dekat sekali.

Mata mereka saling beradu dalam jarak tidak lebih dari 10 cm. David menarik kepala Marun untuk mendekat…8 cm…5 cm…3 cm…

9 detik kemudian mereka mengakhiri moment yang indah itu. Marun mengakhiri dengan senyuman tipis di bibirnya,

“ Gua yang nyetir ya? Kayaknya lo agak capek” Marun memberikan tawaran

“ Sampai Bandung ya” tawar David lagi

“ Done” Marun bangkit dan duduk di bangku kemudi yang diikuti David yang duduk disebelahnya. Mereka meneruskan perjalanan kembali.



“ Dave??” bangun Say, dah sampe di Padalarang nih” ujar Marun lembut sambil mengusap kepala David yang terlelap.

“ Mmm….Padalarang? Masuk tol aja ya, trus keluar di Pasteur trus ke Hasan Sadikin…mmm” ujar David pelan lalu tidur lagi sambil memeluk tangan Marun.

“ Yee gua nggak bisa nyetir dong?” Marun lantas menarik tangannya pelan,   “ Dasar!!”

Sebelum kerumah sakit mereka mampir ke toko untuk membeli buah dan bunga untuk temen David yang sakit.

“ Memangnya dia sakit apa sih Dave?” tanya Marun sewaktu berjalan di lorong menuju kamar teman David

“ Baru dioprasi usus buntu. Hehehe dia sih paling nggak tahan kalau liat jambu, bawaannya makan jambu melulu! Jadinya aja dia usus buntu!” jawab David sambil tekekeh menahan geli

“ Oooo” Marun menganguk-anggukkan kepala tanda paham

“ O iya kalau nggak salah lo udah kenal kok sama dia” ujar David sambil membuka pintu kamar 365

“ Hai Don, pa kabar Man?” sapa David riang sambil mengenggam erat tangan Doni yang yang kekar.

“ Wah…lo datang jengukkin gua jauh-jauh dari Jakarta nih? Jadi ngerepotin dong!” ujar Doni tak kalah riang dan ramah, wajar saja karena akhirnya sekarang duo sobat jahil itu bertemu lagi setelah hampir 2 tahun tak jumpa.

“ Hahaha nggak ngerepotin kok, lagipula seneng kok bisa ketemu lo lagi, untung aja Jambu favorit lo cuman makan usus lo, bukan jantung lo HAHAHAHA” canda David

“ Dasar!!! Awas lo ya, o iya itu siapa Vid?” tanya Doni sambil mengalihkan pandangan ke arah Marun yang dari tadi berdiri dibelakang Doni.

“ Ohh ini cewek gua, Marun” David mengenalkan Marun pada Doni. Tiba-tiba senyum menghilang dari wajah Doni maupun Marun setelah mata keduanya bertatapan.

Marun berusaha menyembunyikan kemarahannya. Dadanya terasa agak sesak menahan amarahnya. Marun menundukkan kepalanya, berusaha menutupi wajah yang memerah dan sedang berusaha sekuat tenaga untuk menahan jatuhnya air mata dari matanya.

Keadaan yang tadinya menyenangkan berubah menjadi keadaan hening yang kurang menyenangkan.

“ Marun, lo kenapa?” tanya David sambil mengelus rambut Marun, David bingung melihat kekasihnya yang sedari tadi ceria sekarang berubah total menjadi Marun yang pendiam dan pemalu.

“ Marun?” tanya Doni sambil bangkit dari tidurnya

“ Ya, namanya Marun. Run, Doni mau kenalan sama lo…Lo nggak apa-apakan?” tanya David mulai cemas melihat keadaan Marun yang sekarang benar-benar menyembunyikan wajahnya dari pandangan. Marun membalikkan tubuhnya cepat dan berlari keluar. David berusaha menahan tapi tidak sempat.

“ Hei!!! Mau kemana?” tanya David, Marun mengacuhkan pertanyaan David dan terus berlari keluar kamar.

“ Dave…biarin aja, mungkin dia lagi capek jadi nggak mau ketemu sama gua” ujar Doni sembari tersenyum kecut

“ Biarin gimana maksud lo? Dia tuh nggak sopan! Duh maaf ya Don, nggak biasanya lo dia kayak begitu, sebenernya dia tuh supel banget dan dia..”

“ Iya, nggak apa-apa kok. Kejar aja!” suruh Doni

“ Tapikan gua baru bentar ketemu sama lo?”

“ Yang penting lo datang, itu cukup kok! Buruan sana, kejar dia, kasian”

“ Thanks sobat, see ya” ujar David sambil menjabat erat tangan sahabatnya itu lalu berlari keluar sambil mengeluarkan HP dan menghubungi Marun yang sekarang sedang duduk lemas di pinggir mobil di pelataran parkir rumah sakit.

“ Lo lagi dimana?” tanya David pendek tegas

“ Di mobil” ujar Marun dengan nada suara yang bergetar

“ Gua kesana” David lalu bergegas ke parkir mobil dan menemukan Marun sedang duduk memeluk erat kakinya erat bersandar pada velg mobilnya. David bergegas menarik tangan Marun, membantu berdiri, membukakan pintu mobil, Marun lalu duduk dan David segera duduk di belakang kemudi dan menyalakan mesin mobilnya.

“ Kenapa sih lo kok jahat kayak gitu?” tanya David tegas, tatapan dingin memenuhi matanya.

Marun tak kuasa menjawab. Dia hanya menunduk, dadanya mulai terasa sesak lagi.

“ Marun…hallo? Gua nanya sekali lagi, lo tadi kenapa?” kali ini nada suaranya diperlembut. Marun tetap tak bergeming. Sekarang mimik wajah Marun menunjukkan kegelisahan dan kebingungan, Marun mulai hilang kendali atas dirinya sendiri, seperti orang yang tak memiliki jiwa saja.

Melihat gelagat Marun yang sangat aneh David menghentikan rasa marahnya pada Marun dan justru khawatir setelah melihat mata Marun yang ‘kosong’.

“ Ok-ok sekarang kita pulang “ ujar David sambil mengusap kepala Marun yang masih menunduk. Pikiran David sekarang dipenuhi banyak sekali pertanyaan ‘kenapa’, ‘ada apa’ dan banyak lagi. Ditambah lagi keadaan Marun yang berubah drastis setelah bertemu dengan Doni, rasa penasaran David makin menjadi-jadi.

Perjalanan pulang sangat berbeda dengan keadaan sewaktu berangkat. Tak ada lagi canda tawa, yang ada hanya keheningan yang dihiasi lantunan pelan musik dari tape mobil.

Sesampainya di depan rumah Marun, David mengantarkan sampai depan rumah dan pamit pada orang tua Marun yang terlihat gelisah mengetahui keadaan anaknya yang aneh.

“ Pak, setelah bertemu teman saya, Marun jadi berubah sekali, kenapa ya Pak?” tanya David sopan pada ayahnya Marun

“ Oh…mungkin tiba-tiba migrainnya kambuh” jawab ayah Marun sambil terbata-bata, seperti menutupi sesuatu.



“ Marun mana?” tanya David pada Noni, sahabat karib Marun di kampus.

“ Tau tuh!! Dari tadi pagi gua nggak liat dia, padahal hari ini ada Fisika dasar lo” jawab Noni

“ Memang kenapa dengan Fisika?” David balik bertanya

“ Itukan pelajaran favoritnya dia! Sakitpun dia bela-belain masuk kuliah kalo ada Fisika. BTW lo-kan cowoknya, kok nggak tau Marun dimana sekarang?” Noni balik bertanya

“ Iya, tapi dari tadi pagi gua nggak bisa menghubungi HP dia, mailbox terus”

“ Mmm iya sih, kalo gitu lo dateng aja ke rumahnya” Noni memberikan usul

“ Huh jauh-jauh dari Salemba ke Depok, trus sekarang harus ke Cinere?” keluh David

“ Eee lo mau ketemu cewek lo ato nggak? Lagi pula Cinere nggak jauh-jauh amat kok!! Terserah elo sih, tapi cowok yang baik selalu bersedia kemana saja untuk menemui kekasihnya, walaupun diujung dunia sekalipun” Noni mulai berpuisi

“ Stop-stop-stop gua akan kesana” ujar David sambil membalikkan tubuhnya dan kembali ke mobilnya. “ Makasih” teriak David pada Noni

“ Sip!! Salam buat Marun ya” teriak Noni yang dibalas acungan jempol David.



“ Malam tante, Marun ada?” sapa David ramah pada Ibunya Marun yang membukakan pintu untuknya.

“ David, masuk Nak, sebentar ya Ibu panggilkan Marun” ujar Ibunya Marun sambil menaiki tangga menuju kamar Marun diatas.

Beberapa menit kemudian Marun tampak menapaki anak tangga menuju ruang tamu. David terkejut melihat penampilan Marun yang berbeda dari biasanya, sekarang Marun terlihat sangat lelah, ada lingkaran hitam membulat dibawah matanya yang sembab karena banyak menangis dan bibir yang sangat pucat. Senyum tipis ada di wajah Marun yang terlihat sangat letih. David sadar kalau ada sesuatu yang tidak beres terjadi pada kekasihnya.

“ Marun sakit?” sapa David begitu Marun sampai di ruang tamu, menarik tangannya pelan dan duduk disebelahnya, Marun menggelengkan kepalanya sekali.

“ Marun marah ya?” tanya David lagi, Marun menggelengkan kepalanya lagi, masih belum mau bicara.

“ Sukur deh Marun nggak sakit atau marah sama David, tapi kok Marun diam saja dari kemarin?” tanya David lagi. Marun sekarang menatap mata David. David merasa ada kegundahan tersirat di mata Marun yang berkaca-kaca, David tak ingin kekasihnya menagis untuk yang kesekian kalinya, dia tahu itu, maka David lantas memeluk Marun erat

“ Udah…maaf ya David nanya terus…sekarang yang penting Marun sehat dan David ada disamping Marun itu udah cukup kok” ujar David sambil mencium kepala Marun

Marun merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya saat ini. Didalam pelukkan hangat David, Marun merasa aman dan seperti menemukan kembali sesuatu yang hilang dari dirinya. Marun sangat berterimakasih atas pemberian Tuhan padanya, seorang kekasih yang sangat pengertian adalah anugrah besar yang belum tentu dimiliki olah cewek lain. Marun lantas balas memeluk David erat, David sempat terkejut lantas merasa lega karena ternyata Marun tidak menolak kehadiran David.

Sembari terus memeluk Marun, David mengusap lembut kepala Marun. Marun merasakan suatu kekuatan untuk menatap mata David dan

“ Dave” ucap Marun pelan. David terkejut, akhirnya Marun mau juga bicara padanya.

“ Kenapa sayang?” tanya David penuh perhatian

“ Makasih ya”

“ Ya…sama-sama”

“ Dave…mmm mau minum apa?” tanya Marun baru ingat kalau David belum disuguhi apapun

“ Oh nggak usah” tolak David

“ Bentar ya, gua ambilkan minuman dulu” ujar Marun sembari bangkit menuju dapur. David lega melihat Marun berjalan menuju dapur sambil tersenyum, itu berarti David bisa kembali bercanda dengannya.

“ Ini” ujar Marun sambil menaruh gelas minuman didepan David dan duduk disampingnya

“ Makasih…so, jadi ada apa kemarin dengan Doni?” tanya David santai

Mendengar nama ‘Doni’ Marun kembali menunjukkan wajah tegang, marah dan gelisah. Marun spontan menjauh dari David. David menyadari hal ini, dan buru-buru minta maaf.

“ Ok-ok maaf-maaf, gua nggak akan nyinggung soal yang kemarin ok?! Maaf ya Say” David lantas memeluk Marun yang sekarang makin gelisah. Hati David pedih melihat keadaan kekasihnya yang dirasa kurang normal ini, David khawatir kalau Marun menjadi seorang yang seperti ini kemudian hari. David memeluk erat Marun, berharap keadaan marun membaik lagi.



Sebulan telah berlalu

“ Dave jangan lupa kado istimewa buat gua besok ya?!” ujar Marun riang

“ Sip, sekarang lo istirahat buat pesta besok ok?” balas David

“Ok”

“ Eh, boleh nggak gua ajak temen gua ke party lo besok?” tanya David

“ Boleh bawa aja sebanyak-banyaknya, biar tambah rame” ujar Marin riang

“ Ok, kalo gitu buruan sana istirahat! Gua mau liat cewek gua yang super cantik di pesta ulang tahunnya besok”

“ Pasti dong! Dah” Marun trun dari mobil David, tapi dengan cepat David menarik tangan Marun dan sebuah kecupan hangat mendarat di keningnya.

“ Met bobo ya” bisik David, Marun membalas dengan senyuman lebar di bibirnya.



David terkesima melihat penampilan Marun malam itu. Marun terlihat anggun dengan gaun malam hitam yang melilit indah mengikuti liuk tubuh indah Marun yang semampai. Sepatu hak tinggi berwarna hitam dengan pernik borci membuat penampilan Marun terlihat glamour tapi tetap simpel. Rambutnya diikat rapi, wajahnya tampak segar dengan sapuan make-up tipis berwarna soft orange, cantik sekali.

“ Selamat ulang tahun tuan putri” bisik David di telinga Marun setibanya di pesta ulang tahun Marun yang meriah. David menarik Marun ke pinggir kolam renang, tempat yang suasananya lebih sepi dan tenang.

“ Dave…baru datang? Kemana aja?” tanya Marun tak percaya David datang terlambat

“ Jalan macet banget, jadi gua lewat tol, eh tol juga macet jadi gua…” penjelasan David dipotong Marun dengan menempelkan telunjuknya ke bibir David

“ Nggak apa-apa kok, yang penting sekarang lo disini, itu adalah hadiah paling istimewa buat gua” ujar Marun lembut

“ Ini, sekali lagi, selamat ulang tahun” ujar David sambil menyodorkan kotak beludru merah marun berukuran sedang pada Marun. Tersenyum Marun menerima hadiah dari kekasihnya itu. Dibukanya kotak tersebut pelan…kalung emas putih dengan bandul berlian berbentuk bintang tersusun rapi didalam kotak tersebut. Marun menganga terkesima melihat hadiah David itu.

“ Dave…inikan”

“ Kenapa? Ada yang salah? Lo nggak suka ya?” potong David

“ Ma..maksud gua..Gua suka..suka banget! Tapi ini-kan mahal Dave” ujar Marun ragu

“ Nggak mahal kalau dibandingin diri lo dan hubungan kita. Itu pantas berada di leher cantik lo” ujar David sembari mengalungkan kalung bintang tersebut ke leher Marun. Setelah itu, mata mereka bertatapan satu sama lain sambil tersenyum. Beberapa detik kemudian, Marun menyudahi interaksi kedua bibir dengan ucapan ‘terima kasih’.

“ Marun…” David lantas berlutut dihadapan Marun

“ Dave, ngapain lo?” tanya Marun heran melihat David yang berlutut dihadapannya, risih juga.

“ Marun…” panggil David lagi

“ Aduh, iya Dave, ada apa? Berdiri dong, nggak enak dilihat sama yang lain ah!” Marun risih

“ Marun gua serius nih..” melihat mata David yang tajam dan wajahnya yang serius membuat Marun terdiam dan mendengarkan David seksama.

“ Marun, would you engaged me?” tanya David sambil mengeluarkan cincin dari balik jasnya

Marun merasa ini adalah sebuah mimpi. Apa iya David ingin bertunangan dengannya? Atau ini lelucon untuk joke ulang tahun dia saja?

“ Lo bercandakan Dave? Nggak lucu ahh” elak Marun

“ Gua serius!!!”

“ Ok…beneran lo serius?” Marun sadar kalau kekasihnya itu sedang tidak bercanda saat ini.

“ Maukah lo bertunangan dengan gua?” tanya David lagi, tatapan tajam matanya menunjukkan kalau ia benar-benar serius

“ Mmm “ Marun bingung

“ Marun…maukah elo jadi tunangan gua?” David kembali menegaskan pertanyaannya

“ Ya” jawab Marun pendek. Mendengar jawaban itu, David langsung memeluk tubuh Marun erat yang disertai tepuk tangan orang-orang yang menyaksikan adegan indah tersebut.

“ YES!!! Sekarang kalian semua tau, Marun adalah tunangan gua!!!” teriak David puas

“ Dave…nggak usah teriak-teriak gitu dong! Malu ah” ujar Marun menenangkan David

“ Gua BAHAGIA, LO JADI TUNANGAN GUA, I LOVE YOU” lantas David memeluk Marun lagi.



Jam menunjukkan tepat tengah malam, itu berarti pesta mulai menapaki puncak kemeriahannya. Saat Marun sedang mengobrol-ngobrol dengan teman-temannya di pinggir kolam renang, tiba-tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari arah belakang.

“ Happy birthday” ujar Doni ramah sambil menyodorkan kado berbentuk hati kehadapan Marun. Marun tersentak melihat keberadaan Doni dihadapannya saat ini. Gelas minuman miliknya lepas dari genggamannya.

“ NGAPAIN LO DISINI?” teriak Marun, marah sekali.

“ Marun, calm down, I just wanna give a gift, that’s all” ujar Doni gugup menenangkan keadaan Marun yang marah luar biasa, Doni tak ingin keberadaannya membuat kacau suasana pesta.

“ PERGI!!! PERGI!!!” usir Marun

“ Ok-ok gua akan pergi” ujar Doni cepat

“ Marun, ada apa?” tanya David terengah-engah

“ Jadi…dia temen yang lo undang ke pesta gua?” tanya Marun sengit pada David

“ Doni?” David heran melihat sahabatnya ada disini saat ini

“ Ya dia!!!” timpal Marun

“ Doni? Nggak!! Dia nggak gua undang! Gua undang orang lain, gua undang Dimas, bukan Doni!!” David membela diri. Saat itu orang-orang sudah mulai berkerumun menyaksikan konflik tersebut.

“ BOHONG!!! Lo BOHONG!!!” Marun menyangkal sambil ketakutan

“ Nggak!! David nggak bohong! Gua memang datang kesini karena kemauan gua sendiri kok!” sela Doni sambil memegang tangan Marun

“ ARGHHH!! Jangan pegang tangan gua!!! Jangan pegang gua!! Jangan dekati gua…PERGI..pergi..pergi” Marun mulai kehilangan kontrol diri, ketakutan, gelisah, sampai pingsan. Untung David dengan sigap menahan tubuh Marun.

“ Marun!!! Sini gua bantuin” Doni menawarkan bantuan pada David. David menatap tajam mata Doni, penuh kecurigaan.

“ Mendingan lo disini aja, biar gua yang urus tunangan gua” ujar David sambil membopong Marun ke ruang keluarga di lantai dua yang tidak ada tamu. David dan keluarga Marun berusaha menyadarkan Marun dengan minyak kayu putih, sedangkan Doni duduk terdiam di pinggir kolam renang menunggu kabar, ia tidak peduli walaupun orang-orang disekitarnya membicarakan dirinya.

Perlahan Marun membuka kelopak matanya, lega hati semua keluarga apalagi hati David melihat tunangannya sadar.

“ Lo baik-baik sajakan?” tanya David begitu Marun bisa bangun

“ Ya…Dia masih ada disini” Marun kembali tegang dan gelisah

“ Dia…dia siapa” tanya David berusaha menenangkan

“ Dia…dia…DONI!!” Marun mulai histeris

“ Nggak..dia nggak ada disini” ujar David cepat sambil memeluk Marun, mudah-mudahan bisa lebih tenang. Terdengar tangisan ibu Marun melihat keadaan putrinya seperti itu.

Benar saja, Marun lebih tenang saat ini. Tapi tiba-tiba

“ Pastikan dia sudah pergi…jangan ada didekat gua…PERGI!!!…jangan, JANGAN!!” Marun histeris lagi, suara tangis ibu Marun makin keras, David sekarang tidak memeluknya tapi memaksa Marun untuk berhadapan dengannya, eye to eye, ia sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya mengapa tiap bertemu Doni Marun jadi histeris dan lose control.

“ Marun, sekarang tatap mata gua!” ujar Doni dingin

“ Jangan…JANGAN!!!” Marun masih histeris

“ MARUN!! Tatap mata gua, SEKARANG!!” tegas David sambil mengencangkan pegangannya pada lengan Marun. Marun tersentak dan menatap mata David, lebih tenang.

“ Ok…sekarang jawab pertanyaan gua…ada apa antara lo dengan Doni?” tanya David

“ Doni? Doni?” Marun sekarang menangis, kepalanya tertunduk

“ Marun…Ada apa antara lo dengan Doni?” David mengulangi pertanyaannya sekali lagi, David terus menahan gejolak sedih dan amarah di hatinya melihat keadaan tunangannya

“ Dave…gua…gua nggak bisa ka-kasih tau sama lo” jawab Marun terus menundukkan kepala dan menangis

“ Kenapa? Gua akan menerima semua jawaban dari lo…Baik atau buruk…bahkan sangat buruk sekalipun…gua akan terima”

“ Bener?” tanya Marun

“ Ya, karena lo adalah tunangan gua, gua akan terima lo apa adanya lo”

“ Nggak Dave…nggak…lo terlalu baik untuk gua. Gua…”

“ Ya…lo kenapa?” tanya David lembut

Dengan menatap mata David Marun sekuat tenaga membuka rahasia yang selama ini ia dan keluarga pendam dalam-dalam. Dengan perasaan ragu Marun mengumpulkan kekuatan untuk memberitahu apa yang sebenarnya terjadi antara Marun dengan Doni. Tapi Marun tak ingin kehilangan David, seseorang yang sangat ia sayangi dan kasihi, seseorang yang telah memberikan kedamaian kepadanya selama ini, ia jadi ragu.

“ Ayo Run…gua tunggu lo untuk bicara apa yang sebenarnya terjadi antara lo dengan Doni?” ucap David pelan

Mendengar nama ‘Doni’ emosi kemarahan Marun meledak.

“ DONI MEMPERKOSA GUA!!!! Dia ambil kehormatan gua…dia jahat! Semuanya gara-gara dia!!! He took my virginity when I’m still junior high. Dia udah SMA, dan gua masih SMP!! Masih BODOH!! Dan mau dibodohi sama dia!!! Dia ambil kehormatan gua begitu saja, dan menghilang entah kemana….untung gua nggak hamil!!!”

David tercengang mendengar itu semua, di benaknya dipenuhi rasa tak percaya, sahabatnya sendiri yang telah memperkosa kekasihnya.

“ Dave…udah tau-kan kenapa alasan gua?!” ujar Marun gelisah

“ Ya” jawab David pendek, sambil bangkit, api kemarahan menguasai dirinya saat ini

“ Dave mau kemana? DAVE?!!” Marun bangkit dan menyusul David.

Spontan David menuju pelataran di pinggir kolam renang tempat Doni duduk termenung. Dengan cekatan David menarik kerah baju Doni lalu meninju pipi Doni sampai hidung Doni mimisan. Kaget karena tib-tiba David, sahabat karibnya, meninjunya tanpa alasan lantas Doni balas meninju yang akhirnya terjadi perkelahian diantara mereka.

Para undangan pria buru-buru memisahkan perkelahian mereka. Baik David maupun Doni sama-sama babak belur dan banyak mengeluarkan darah.

“ Don..please, mendingan lo pergi sekarang” pinta Marun kepada Doni sembari menundukkan kepalanya, Marun masih belum bisa melihat langsung wajah Doni.

“ Tapi Run!!” gelak Doni ingin membela diri

Please…” mohon Marun pelan, menatap mata Doni penuh harap. Doni agak terkejut karena akhirnya Marun bersedia menatapnya kembali walaupun sesaat. Doni membalikkan badannya, dan pergi

“ Dave…lo baik-kan?” tanya Marun sambil memeluk David erat, takut David terluka.

“ Gua nggak apa-apa kok! Cuman luka biasa” jawab David lemah

“ Tadi gua lihat dia nendang perut lo, gua khawatir”

“ Perut gua nggak…aww!” David merintih sewaktu perutnya digerakkan

“ Jangan gerak…maaf Dave, lo jadi gini gara-gara gua” ujar Marun lemah sambil menitikkan air mata

“ Sudah, gua nggak apa-apa kok! Tunanganmu ini kuat kok!!”

Ucapan terakhir David membuat Marun tak percaya…Marun menatap takjub mata David

“ Kenapa?” David bertanya keheranan

“ Lo…tadi bilang…tunangan gua?” tanya Marun tak percaya

“ Ooo iya, gua memang tunangan lo, atau lo berubah pikiran untuk nolak gua?” David balik bertanya

“ Nggak!” jawab Marun cepat

“ Nggak?? Nggak mau jadi tunangan gua maksud lo?” David bertanya lagi

“ Nggak bukan gitu…”

“ Lantas apa?? Ooo kalo gitu…” David mengenggam erat jemari Marun, menatap dalam mata Marun sekali lagi. “ Gua makin yakin sama hubungan gua saat ini. So…Marun, would you married me?” tanya David lembut tapi terdengar keyakinan dibelakang suaranya.

Marun mencium David setelah mendengar permintaan David. Itu lebih dari cukup untuk David untuk dijadikan jawaban. Di dalam hati, Marun berterimakasih pada Tuhan, karena telah memberikan seseorang yang luar biasa untuk dirinya yang tidak sempurna. Hari ini adalah hari terindah dalam hidup Marun setelah cobaan pahit yang telah  diterimanya dahulu. Terima kasih Tuhan…
                                                           R 7 Januari 2005